SUMBER BAHAN PENCEMA R LOGAM BERAT.

1. Sumber dari Alam
Kadar   Pb   yang   secara    alami   dapat   ditemukan   dalam bebatuan sekitar 13 mg/kg. Khusus Pb yang tercampur dengan batu fosfat  dan  terdapat  didalam  batu  pasir  ( sand  stone)  kadarnya  lebih besar yaitu 100 mg/kg. Pb yang terdapat di tanah berkadar sekitar 5  -
25 mg/kg dan di air bawah  tanah (ground water) berkisar antara 1 - 60
µg/liter.
Secara alami Pb juga ditemukan di air permukaan. Kadar Pb pada air telaga dan air sungai adalah sebesar 1 -10 µg/liter. Dalam air laut kadar Pb lebih rendah dari dalam air tawar. Laut Bermuda yang dikatakan  terbebas  dari  pencemaran  mengandung  Pb  sekitar  0,07
µg/liter. Kandungan Pb dalam air danau dan sungai di USA berkisar antara 1-10 µg/liter.
Secara  alami  Pb  juga  ditemukan  di  udara  yang  kadarnya berkisar  antara  0,0001  -  0,001  µg/m3.  Tumbuh-tumbuhan  termasuk sayur-mayur dan padi-padian dapat mengandung Pb, penelitian yang
dilakukan di USA kadarnya berkisar antara 0,1 -1,0 µg/kg berat kering. Logam  berat  Pb  yang  berasal  dari  tambang  dapat  berubah  menjadi PbS  (golena),  PbCO3  (cerusite)  dan  PbSO4  (anglesite)  dan  ternyata golena  merupakan  sumber  utama  Pb  yang  berasal  dari  tambang. Logam  berat  Pb  yang  berasal  dari  tambang  tersebut  bercampur dengan  Zn  (seng)  dengan  kontribusi  70%,  kandungan  Pb  murni sekitar   20%   dan   sisanya   10%   terdiri   dari   campuran   seng   dan tembaga.
Secara  alami  Hg  dapat  ber asal  dari  gas  gunung  berapi  dan penguapan dari air laut. Dilaporkan   kandungan  kadnium  (Cd) dalam air laut di dunia di bawah 20 ng/l. Variasi lain kandungan  kadnium dari air  hujan,  freshwater  dan  air  permukaan  di  perkotaan  d an  daerah

industri, kadnium pada level 10–4000 ng/l tergantung pada spesifikasi lokasi atau saat pengukuran larutan kadnium (WHO 1992).
Kadnium   masuk   kedalam   freshwater   dari   sumber   yang berasal  dari  industri.  Air  sungai  dan  irigasi  untuk  pertanian  yang mengandung  kadnium  akan  terjadi  penumpukan  pada  sedimen  dan Lumpur.   Sungai   dapat   mentrasport   kadnium   pada   jarak   sampai dengan 50 km dari sumbernya.  Kadnium dalam tanah bersumber dari alam  dan sumber antropogenik. Yang berasal dari alam  berasal dari batuan atau   material lain seperti glacial dan alluvium.  Kadnium  dari tanah  yang  berasal  dari  antropogenik  dari  endapan  penggunaan pupuk    dan    limbah.    Sebagian    besar    kadnium    dalam    tanah berpengaruh   pada   pH,   larutan   material   organic,   logam    yang negandung  oksida,  tana h  liat  dan    zat  organik  maupun  anorganik. Rata-rata kadar kadnium alamiah dikerak bumi sebesar 0,1 -0,5 ppm.

2. Sumber dari Industri
Industri  yang  perpotensi  sebagai  sumber  pencemaran  Pb adalah semua industri yang memakai Pb sebagai bahan baku maupun bahan penolong, misalnya:

Industri pengecoran maupun pemurnian.
Industri  ini  menghasilkan  timbal  konsentrat  ( primary  lead), maupun secondary lead yang berasal dari potongan logam ( scrap).

Industri batery.
Industri  ini  banyak  menggunakan  logam  Pb  terutama   lead antimony alloy dan lead oxides sebagai bahan dasarnya .

Industri bahan bakar.
Pb  berupa  tetra  ethyl  lead  dan  tetra  methyl  lead   banyak dipakai sebagai anti knock pada bahan bakar, sehingga baik industri maupun    bahan    bakar    yang    dihasilkan    merupakan    sum ber pencemaran Pb.

Industri kabel.
Industri  kabel  memerlukan Pb  untuk  melapisi  kabel.  Saat  ini pemakaian  Pb  di  industri  kabel  mulai  berkurang,  walaupun  masih digunakan  campuran  logam  Cd,  Fe,  Cr,  Au  dan  arsenik  yang  juga membahayakan untuk kehidupan makluk  hidup.

Industri kimia, yang menggunakan bahan pewarna.
Pada  industri  ini  seringkali  dipakai  Pb  karena  toksisitasnya relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan logam pigmen yang lain. Sebagai   pewarna   merah   pada   cat   biasanya   dipakai    red   lead, sedangkan untuk warna kuning dipakai lead chromate.

Industri    pengecoran    logam    dan    semua    industri    yang
menggunakan  Hg  sebagai  bahan  baku  maupun  bahan  penolong, limbahnya    merupakan  sumber  pencemaran  Hg.  Sebagai  contoh antara lain adalah industri klor alkali, peralat an listrik, cat, termometer, tensimeter,  iindustri  pertanian,  dan  pabrik  detonator.  Kegiatan  lain yang merupakan sumber pencemaran Hg adalah praktek  dokter gigi yang   menggunakan amalgam sebagai bahan penambal gigi . Selain
itu bahan bakar fosil juga merup akan sumber Hg pula.

3. Sumber dari Transportasi
Hasil  pembakaran  dari  bahan  tambahan  ( aditive)  Pb  pada
bahan bakar kendaraan bermotor menghasilkan emisi Pb in organik. Logam berat Pb yang  bercampur dengan bahan bakar tersebut akan bercampur dengan oli dan melalui proses di dalam mesin maka logam berat Pb akan keluar dari knalpot bersama dengan gas buang lainnya.

Abstract  :  Historically,  Environmentally Impact Assessment (EIA) or
AMDAL was changed according to government regulation number 51
of 1993. According to act of the Republic of Indonesia number 23 of
1997    regarding    Environment al    Management,    the    government regulation  number  51  of  1993  has  to  be  changed  to  government regulation number 27 of 1997. The important material is the wipe ring out all of the AMDAL commission at the Environmental Ministry Office and  changed  to  the  Center  of  Evaluation  Commission.  The   most important things at the government regulation number 27 of 1997  are open   information   and   role   of   community.   AMDAL   is   composed procedures  such  as  impact  identification  and  action  plan   have  to analyze  basic  environmental  condition,  prediction  and  evaluation  of important  impact  and  also  direction  of  environmental  monitor  and management    plan.    To    implement    environmentally     sustainable development, the practice of AMDAL  management should be changed
to  be  self-management  system.  The  implementation  of  that  system such   as   the   undertaker   has   to   develop   Voluntary   Environment Practice Code (VEP C) and Polluter Pays Principle System (PPPS).

PENDAHULUAN

Analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) pertama kali dicetuskan berdas arkan atas ketentuan yang tercantum dalam  pasal
16  Undang-undang  No.  4  tahun  1982  tentang  ketentuan-ketentuan pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup.  Sebagai penjabaran  pasal 16 tersebut, diundangkan suatu Peraturan Pemerintah  (PP) No. 29 tahun
1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)  pada tanggal  5  Juni  1986 .  Peraturan  Pemerintah  No.  29/1986  tersebut berlaku efektif pada tanggal 5 Juni 1987 yang mulai selang satu tahun setelah ditetapkan. Hal tersebut diperlukan karena masih perlu waktu untuk    menyusun    kriteria    dampak    terhadap    lingkungan    sosial mengingat  definisi  lingkungan  yang  menganut  paham  holistik  yaitu

tidak  saja mengenai lingkungan fisik  atau  kimia saja namun meliputi
pula lingkungan sosial.
Berdasarkan  pengalaman  penerapan  PP  No.   29/1986  ter- sebut  dilakukan  deregulasi  dan  untuk  mencapai  efisiensi  maka  PP No. 29/1986 diganti dengan PP No.  51/1993 yang diundangkan pada tanggal  23  Oktober  1993.  Perubahan  tersebut  mengandung  suatu cara  untuk  mempersingkat  lamanya  penyusunan  AMDAL  dengan mengintrodusir   penetapan   usaha   dan/atau   kegiatan   yang   wajib
AMDAL   dengan   keputusan   Menteri   Negara   Lingkungan   Hidup.
Dengan    demikian    tidak       diperlukan    lagi    pembuatan    Penyajian Informasi  Lingkungan  (PIL).  Perubahan  tersebut  mengandung  pula keharusan   pembuatan    Analisis   Dampak    Lingkungan    ( ANDAL), Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL), dan Rencana Pemantauan Lingkungan  (RPL)  di buat  sekaligus  yang  berarti  waktu  pembuatan dokumen  dapat  diperpendek.  Dalam  perubahan  tersebut  diintrodusir pula pembuatan dokumen Upaya Pengelo laan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) bagi kegiatan yang tidak wajib AMDAL.    Upaya    Pengelolaan    Lingkungan    (UKL)    dan    Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL) ditetapkan oleh Menteri Sektoral yang berdasarkan format yang di tentukan oleh Menter i Negara Lingkungan Hidup. Demikian pula wewenang menyusun AMDAL disederhanakan dan dihapuskannya dewan kualifikasi dan ujian negara.
Dengan  ditetapkannya  Undang -undang  No.  23  tahun  1997
tentang  Pengelolaan  Lingkungan  Hidup  (UU   PLH),  maka  PP  No.
51/1993  perlu  diganti  dengan  PP  No.  27/1999  yang  diundangkan pada  tanggal  7  Mei  1999,  yang  efektif  berlaku  18  bulan  kemudian. Perubahan  besar  yang  terdapat  dalam  PP  No.   27/1999  adalah  di hapuskannya semua Komisi AMDAL Pusat   dan diganti dengan satu Komisi Penilai Pusat yang ada di Kementerian Lingkungan Hidup. Di daerah  yaitu  propinsi,  mempunyai  Komisi  Penilai  Daerah.  Apabila penilaian   tersebut   tidak   layak   lingkungan   maka   instansi   yang berwenang   boleh   menolak   permohohan   ijin   yang   diajukan   oleh pemrakarsa. Suatu hal y ang lebih ditekankan dalam PP No.  27/1999 adalah keterbukaan informasi dan peran masyarakat.
Implementasi   AMDAL   sangat   perlu   disosialisasikan   tidak hanya kepada masyarakat namun perlu juga pada para calon investor agar  dapat mengetahui  perihal  AMDAL di In donesia.  Karena  proses pembangunan    digunakan    untuk    meningkatkan    kesejahteraan masyarakat   secara   ekonomi,   sosial   dan   budaya.   Dengan   imple - mentasi  AMDAL  yang  sesuai  dengan  aturan  yang  ada,  maka  di harapkan    akan       berdampak        positip        pada    pembangunan    yang berwawasan   lingkungan   dan   berkelanjutan   ( sustainable   develop - ment).

ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN  (AMDAL) Definisi AMDAL
AMDAL  adalah  kajian  mengenai  dampak  bes ar  dan  penting suatu  usaha  dan/atau  kegiatan  yang  direncanakan  pada  lingkungan hidup  yang  diperlukan  bagi  proses  pengambilan  keputusan  ten tang penyelenggaraan usaha dan/ atau kegiatan.

Dasar Hukum AMDAL
Sebagai dasar hukum  AMDAL adalah PP No.  27/1999  yang didukung   oleh   paket   Keputusan   Menteri   Lingkungan   Hidup   No.
17/2001 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib
Dilengkapi dengan AMDAL.

Tujuan dan Sasaran AMDAL
Tujuan  dan  sasaran  AMDAL  adalah  untuk  menjamin  suatu usaha  atau  kegiatan  pembangunan  dapat  berjalan  secara  berke - sinambungan tanpa merusak lingkungan hidup. Dengan melalui st udi AMDAL  diharapkan  usah a  dan/atau  kegiatan  pembangunan  dapat memanfaatkan  dan  mengelola  sumber  daya  alam  secara  efisien, meminimumkan dampak negatip dan memaksimalkan dampak positip terhadap lingkungan hidup.

Mulainya Studi AMDAL
AMDAL  merupakan  bagian  dari  studi  kelayakan  suatu  ren - cana usaha dan/atau kegiatan. Sesuai dengan PP No.  27/1999 maka AMDAL  merupakan  syarat  yang  harus  dipenuhi  untuk  menda patkan ijin  melakukan  usaha  dan /atau  kegiatan.  Oleh  kare nanya  AMDAL harus  disusun  segera  setelah  je las  alternatif  lokasi  usaha  dan /atau kegiatannya serta alternatif teknologi yang akan digunakan.

AMDAL dan Perijinan
Agar supaya pelaksanaan AMDAL berjalan efektif dan dapat mencapai  sasaran  yang  diharapkan,  pengawasannya  dikaitkan  de - ngan   mekanisme   perijinan   ren cana   usaha    dan/atau   kegiatan. Berdasarkan  PP   No.  27/1999  suatu  ijin  untuk  melakukan  usaha dan/atau  kegiatan  baru  akan  diberikan  bila  hasil  dari  studi  AMDAL menyatakan bahwa rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut layak lingkungan. Ketentuan dalam RKL/RPL  menjadi bagian dari ketentuan ijin.
Pasal  22  PP  No.  27/1999  mengatur  bahwa  instansi  yan g bertanggung   jawab   (Menteri   Lingkungan   Hidup   atau   Gubernur) memberikan  keputusan  layak  atau  tidak  lingkungan  apabila  sesuai dengan  hasil penilaian Komisi . Keputusan  tersebut  harus diikuti oleh instansi  yang  berwenang  menerbitkan  ijin  usaha.  Apabila  pejabat

yang  berwenang  menerbitkan  ijin  usaha  tidak  mengikuti  keputusan
tersebut,  maka  pejabat   yang  berwenang   tersebut  dapat  menjadi obyek gugatan tata usaha negara di  Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).  Sudah  saatnya  sistem  hukum  kita  memberikan  ancaman sanksi  tidak  hanya  kepada  masyarakat  umum,  tetapi  harus  berlaku pula  bagi  pejabat  yang  tidak  melaksanakan  Undang -undang  seperti sanksi disiplin ataupun sanksi pidana.

Prosedur penyusunan AMDAL
Secara   garis   besar   proses   AMDAL   mencakup   langkah sebagai berikut :
1. Mengidentifikasi dampak dari rencana usaha dan/atau kegiatan .
2. Menguraikan rona lingkungan awal.
3. Memprediksi dampak penting .
4. Mengevaluasi dampak penting d an merumuskan arahan RKL dan
RPL.
Dokumen  AMDAL  terdiri  dari  5  (lima)  rangkaian  dokumen yang dilaksanakan secara berurutan, yaitu  :
1. Konsultasi Masyarakat sebagai implementasi Kepka Bapedal No.
8/2000
2.  Dokumen  Kerangka  Acuan  Analisis  Dampak  Lingkungan   (KA- ANDAL)
3. Dokumen Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL)
4. Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL)
5. Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL)

Pendekatan Studi AMDAL
Dalam   rangka   untuk   mencapai   efisiensi   dan   efektivitas pelaksanaan   AMDAL,   penyusu nan   AMDAL   bagi   rencana   usaha dan/atau kegiatan dapat dilakukan melalui pendekatan studi AMDAL sebagai berikut :
1. Pendekatan studi AMDAL Kegiatan Tunggal
2. Pendekatan studi AMDAL Kegiatan Terpadu
3. Pendekatan studi AMDAL Kegiatan Dalam Kawasan

Penyusunan AMDAL
Untuk  menyusun  studi  AMDAL ,  pemrakarsa  dapat  meminta jasa konsultan untuk menyusun nya. Anggota penyusun ( minimal koor- dinator pelaksana) harus bersertifikat Penyusun AMDAL (AMDAL B). Sedangkan   anggota   penyusun   lainnya   adalah   para   pemegang sertifikat  Dasar  AMDAL  dan  para  ahli  dibidangnya  yang  sesuai  de - ngan bidang kegiatan yang dibuat dokumen AMDALnya.

Peran Serta Masyarakat
Semua  kegiatan  dan /atau  usaha  yang  wajib  AMDAL,  diwa - jibkan  bagi   pemrakarsa  untuk  mengumumkan  terlebih  dulu  kepada masyarakat  sebelum  pemrakarsa  menyusun  AMDAL   yaitu  pelak- sanaan  Kepka  Bapedal  No.  8/2000  tentang  Keterlibatan  Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam proses AMDAL.
Dalam  jangka  waktu  30  hari  sejak  diumumkan,  masyarakat berhak memberikan saran, pendapat,  dan tanggapan. Dalam  proses pembuatan AMDAL, maka peran masyarakat tetap diperlukan, untuk memberikan  pertimbangan,  saran,  pendapat  dan  tanggapan  dalam pelaksanaan   studi   AMDAL.   P ada   proses   penilaian   AMDAL   oleh Komisi   Penilai   AMDAL   maka   saran,   pendapat,   dan   tanggapan masyarakat akan menjadi dasar  pertimbangan penetapan kelayakan lingkungan dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.

PENILAIAN DOKUMEN AMDAL

Penilaian  dokumen  AMDAL  dilakukan  oleh  Komisi  Penilaian AMDAL  Pusat  yang  berkedudukan  di  Jakarta,  yait u  untuk    menilai dokumen   AMDAL   dari   usaha   dan/atau   kegiatan   yang   bersifat strategis,   lokasinya   melebihi   satu   propinsi,   berada   di   wilayah sengketa, berada di ruang  lautan, dan/atau  lokasinya di  lintas  batas negara RI dengan negara lain.
Dalam   pelaksanaan   otonomi   daerah,   untuk   tingkat   propinsi penilaian  dokumen  AMDAL  dilakukan  ole h  Bapedal  Propinsi,  yaitu untuk  menilai usaha dan/atau kegiatan  yang lokasinya melebihi satu Kabupaten/Kota.
Untuk  tingkat  Kabupaten/Kota  sudah  tersedia  pula  tim  penilai yaitu para pejabat yang sudah mendapatkan serti fikat Penilai (AMDAL C).  Penilaian  dokumen  AMDAL  dilakukan  untuk  beberapa  dokumen dan meliputi penilaian terhadap kelengkapan administrasi dan is i do- kumen.
Dokumen yang dinilai, meliputi :
1. Penilaian dokumen Keran gka Acuan (KA) .
2. Penilaian dokumen Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) .
3. Penilaian Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) .
4. Penilaian Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) . Penilaian Kerangka Acuan (KA), meliputi  :
1. Kelengkapan administrasi .
2. Isi dokumen, yang terdiri dari :
a. Pendahuluan.
b. Ruang lingkup studi. c. Metode studi.
d. Pelaksanaan studi.
e. Daftar pustaka dan lampiran.

Penilaian Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL), meliputi  :
1. Kelengkapan administrasi .
2. Isi dokumen, meliputi :
a. Pendahuluan.
b. Ruang lingkup studi. c. Metode studi.
d. Rencana usaha dan /atau kegiatan. e. Rona lingkungan awal .
f.  Prakiraan dampak penting .
g. Evaluasi dampak penting dan daftar pustaka  serta lampiran. Penilaian Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) , meliputi :
1. Lingkup RKL.
2. Pendekatan RKL.
3. Kedalaman RKL.
4. Rencana pelaksanaan RKL .
5. Daftar pustaka dan lampiran.
Penilaian Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL), meliputi  :
1. Lingkup RPL.
2. Pendekatan RPL.
3. Rencana pelaksanaan RPL .
4. Daftar pustaka dan lampiran.

KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN DAERAH KABUPATEN /KOTA

Komisi tersebut di bentuk oleh Bupati/ Walikota. Tugas komisi penilai adalah menilai dokumen KA, ANDAL, RKL, dan RPL. Dalam melaksanakan tugasnya k omisi penilai dibantu oleh tim teknis komis i penilai dan sekretaris komisi penilai.
Susunan   keanggotaan   komisi   penilai   terdiri   dari   ketua, biasanya  dijabat  oleh  Ketu a  Bapedalda  Kabupaten/Kota  dan  sekre- taris  biasanya  dijabat  oleh  salah  seorang  pejabat  yan g  menangani masalah  AMDAL.  Sedangkan  anggotanya  terdiri  dari  Wakil  Bape - dalda,  instansi  yang  bertugas  mengendalikan  dampak  lingkungan, instasi   bidang   penanaman   modal,   instansi   bidang   pertanahan, instansi bidang pertahanan, instansi bidang kesehatan, instan si yang terkait dengan  lingkungan  kegiatan  dan  anggota lain  yang di anggap perlu.
Secara  garis  besar  komisi  penilai  AMDAL  dapat  terdiri  dari beberapa  unsur,  yaitu  (1)  unsur  pemerintah;  (2)  wakil  masyarakat terkena  dampak;  (3)  perguruan  tinggi;  (4)  pakar,  dan  (5)  organisasi lingkungan.
Ada  semacam  kerancuan  dalam  kebijakan  AMDAL  dimana dokumen tersebut ditempatkan sebagai sebuah studi kelayakan ilmiah
di bidang lingkungan hidup yang menjadi alat bantu bagi pengambilan

keputusan dalam pembangunan. Namun demik ian komisi penilai yang bertugas menilai AMDAL beranggotakan mayoritas wakil dari instansi pemerintah  yang  mencermikan  heavy  bureaucracy  dan  wakil-wakil yang  melakukan  advokasi.  Dari  komposisi  yang  ada  dapat  meng - akibatkan hal-hal sebagai berikut (1) keputusan kelayakan lingkungan didominasi  oleh  suara  yang  didasarkan  pada  kepentingan  birokrasi; (2) wakil masyarakat maupun LSM sebagai kekuatan  counter balance dapat dengan mudah terkooptasi ( captured or coopted)   dikarenakan berbagai faktor; (3)  keputusan cukup sulit untuk dicapai karena yang mendominasi adalah bukan pertimbangan ilmiah obyektif akan tetapi kepentingan  pemerint ah  atau  kepentingan  masyarakat/LSM  secara sepihak.
Jika  pengusaha  atau  investor  ingin  akan  melaksanakan  studi AMDAL, sebaiknya melakukan konsultasi pada 3 (tiga) komisi penilai AMDAL, yaitu :
1.    Komisi Penilai AMDAL Pusat .
2.    Komisi Penilai AMDAL Propinsi .
3.    Komisi AMDAL Kabupaten/ Kota .
Tergantung  dari  jenis  rencana  kegiatan  yang  akan  di lakukan  studi
AMDALnya.

EVALUASI PROSES PENILAIAN DOKUM EN AMDAL

Proses  dan prosedur  penilaian AMDAL secara  umum  cukup baik,  yang  ditandai  dengan  singkatnya  waktu  penilaian ,  memang waktu  penilaian  sangat  tergantung  dari  kualitas  KA  dan  dokumen AMDALnya sendiri.

Kemampuan teknis dan obyektifitas dari penilaian
Anggota  komisi  penilai  yang  telah  memiliki  sertifikat  kursus AMDAL  A,  B,  dan  C  cukup  baik  secara  teknis  dan  obyektif,  lebih profesional serta anggota penilai yang pernah melakukan penyusunan AMDAL  walaupun  jumlahnya  relatif  tidak  banyak.  Anggota  komisi penilai yang berasal dari institusi sektoral ata u dari pemerintah daerah (bukan   dari   tim   penilai   tetap)   sering   belum   banyak   menguasai mengenai  AMDAL.  Penilaian  oleh  LSM  dan  wakil  dari  masyarakat kadang-kadang kurang obyektif. Tim teknis yang ikut duduk di d alam komisi penilai perlu lebih memahami peran bidangnya dalam AMDAL.

Evaluasi keterlibatan masyarakat
Usaha melibatkan masyarakat dalam penilaian AMDAL cukup memadai  dengan  dilibatkannya  LSM  lokal  dan  Pemerintah  daerah (Bappeda), dan tokoh masyarakat.

AMDAL DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

Dengan dilaksanakannya AMDAL yang sesuai dengan aturan, maka akan didapatkan hasil yang optimal dan akan berpengaruh ter - hadap pembangunan dan kebangkitan ekonomi.  Mengapa demikian? Dalam    masa    otonomi    daerah    diharapkan    pemerintah    daerah menganut paradigma baru, antara lain :
1.  Sumber daya yang ada di daerah merupakan bagian dari sistem penyangga   kehidupan   masyarakat,   seterusnya   masyarakat merupakan sumber daya pembangunan bagi daerah.
2.  Kesejahteraan   masyarakat   merupakan   sat u   kesatuan   dan bagian  yang  tidak  terpisahkan  dari  kelestarian  sumber  daya yang ada di daerah.
Dengan demikian, maka dalam rangka otonomi daerah, fungsi dan  tugas  pemerintah  daerah  seyogyanya  berpegang  pada  hal -hal tersebut dibawah ini :
1.  Pemda menerima dese ntralisasi kewenangan dan kewajiban .
2.  Pemda meningkatkan pelayanan kepada masyarakat .
3.  Pemda melaksanakan program ekonomi kerakyatan .
4.  Pemda  menetapkan  kebijakan  pengelolaan  sumber  daya  di daerah secara konsisten.
5.  Pemda memberikan jaminan kepastian usaha .
6.  Pemda  menetapkan  sumber  daya  di  daerah  sebagai  sumber daya kehidupan dan bukan sumber daya pendapatan .

Keberhasilan Implementasi Amdal d i Daerah
Sebagai syarat keberhasilan implementasi AMDAL di daerah
adalah :
1.  Melaksanakan peraturan atau perundang-undangan yang ada.
Sebelum   pembuatan   dokumen   AMDAL ,   pemrakarsa   harus melaksanakan  Kepka  Bapedal  No.  8 /2000  tentang  Keterlibatan Masyarakat  dan  Keterbukaan  Informasi  dalam  Proses  AMDAL , yaitu   dengan   melaksanakan   konsultasi   masyarakat   sebelum pembuatan KA. Apabila k onsultasi masyarakat berjalan dengan baik dan lancar, maka pelaksanaan AMDAL serta implementasi RKL  dan  RPL  akan  berjalan  dengan  baik  dan  lancar  pula.  Hal tersebut akan berimbas pada kondisi lingkungan baik lingkungan fisik  atau kimia,  sosial-ekonomi-budaya  yang kondusif sehingga masyarakat  terbebas  dari  dampak  negatip  dari  kegiatan  dan masyarakat akan sehat serta perekonomian akan bangkit.
2.  Implementasi    AMDAL    secara    profesional,    transparan    dan terpadu.
Apabila  implementasi  memang  demikian  maka  implementasi RKL  dan  RKL  akan  baik  pula.  Implementai  AMDAL,  RKL  dan RPL  yang  optimal   akan  meminimalkan  dampak   negatif   dari

kegiatan yang ada. Dengan demikian akan meningkatkan status kesehatan, penghasilan masyarakat meningkat dan masyarakat akan  sejahtera.  Selain  itu  pihak  industri  dan/atau  kegiatan  dan pihak pemrakarsa akan mendapatkan keuntungan yaitu  terbebas dari  tuntutan  hukum  (karena  tidak  mencemari  lingkungan)  dan terbebas   pula  dari  tuntutan  masyarakat   (karena  masyarakat merasa  tidak  dirugikan).  Hal  tersebut  aka n  lebih  mudah  untuk melakukan    pendeka tan    sosial-ekonomi-budaya    dengan masyarakat di sekitar pabrik/industri/kegiatan berlangsung.

Abstract:  The  use  of  air  conditioning  as  an  alternative  to  replac e natural   ventilation   may   improve   comfort   and   work   productivity. However  air  conditioning  that  is  not  well  maintained  may become  a good   media   for   microbial   growth.   This   condition   may   result   in decreased indoor air quality and induce health impairment known  as Sick Building Syndrome. The objectives of this study were to analyze the   effects   of   physical   and   microbiological   qualities   on   health impairment. This study was carried out in an air conditioned, two -story building   of   PT.Infomedia   Nusantara   in   Surabaya. This   was   an observational  study  with  cross -sectional  approach.  This  study  was carried  out  by  means  of  interview,  observation  and  measurements including   air   temperature,   relative   humidity,   air   velocity   and   the number of colony forming units in a cubic meter  of air (germs, fungi, and bacteria). The number of population was 94 employees and the number   of   samples   taken   was   89   employees   using   purposive sampling technique. Data collected were analyzed either descriptively (tabulation) and analytically using logis tic regression test (α = 0.05).
The   results   of   this   study   showed   that   air   temperatures measured were still within the recommended temperature range, while relative  humidity,  air  velocity  and  total  germs  colonies  measured  in two  locations  had  exceeded  the  recommended  standards .  The  total colonies  of  fungi  were  0,87  (first  floor)  and  1,94  (second  floor),  and total colonies of bacterial were 6,87 (first floor) and 3,21 (second floor) respectively.Complaints  experienced  by  employees  were  skin irritation (75,28 %), eye irritatio n (74,16 %), nasal irritation (73,03 %), neurological dissorder (66,29 %), sore throat (46,07 %), and nausea (21,35  %) respectively. Fungus  had significant  influence (p  = 0.048) on  nasal  irritation,  nausea  were  significantly affected  (p  =  0.020)  by germs  whereas  the  other  variables  did  not  influence  (p  >  0.05)  on health problems. It is suggested that the company provide training on indoor    air    quality   (SBS/BRI)    to    all    employees    and    conduct environmental  monitoring  as  well  as  performing  either  preplacement
or periodic medical examination. The air conditioning available should be   checked   and   maintained   at   regular   intervals,   manager   and employees should always participate in keeping the work place clean.

 

 

PENDAHULUAN

Penggunaan  Air  Conditioner  (AC)  sebagai  alternatif  untuk mengganti   ventilasi   alami   dapat   meningkatkan   kenyamanan   dan produktivitas kerja, namun AC yang jarang dibersihkan akan menjadi tempat nyaman bagi mik roorganisme untuk berbiak. Kondisi tersebut mengakibatkan  kualitas  udara  dalam  ruangan  menurun  dan  dapat menimbulkan    berbagai  gangguan  kesehatan  yang  disebut  sebagai Sick Building Syndrome (SBS) atau Tight Building Syndrome (TBS).
Banyaknya aktivitas di gedung me ningkatkan jumlah polutan dalam   ruangan.   Kenyataan   ini   menyebabkan   risiko   terpaparnya polutan dalam ruangan terhadap manusia semakin tinggi, namun hal
ini masih jarang diketahui oleh masyarakat.
Pada dasarnya desain AC yang dipakai untuk mengatur suhu ruangan  secara  kontinu  dapat  mengeluarkan  bahan  polutan.  Kadar gas-gas  SO2, CO2,  dan O2  di dalam  ruangan  tidak  dipengaruhi  oleh keberadaan  AC.  Bahan  partikulat  dapat  dikurangi  secara  signifikan oleh  AC  dengan  filter  yang  efektif.  Kadar  pollen  di  dalam  ruangan dapat berkurang secara signifikan dengan adanya AC. Jumlah bakteri dan  spora  di  gedung  dengan  AC  kemungkinan  akan  lebih  sedikit
daripada  gedung  tanpa  AC,  walaupun  sampai  saat  ini  hal  tersebut masih diperdebatkan.
Hasil  pemeriksaan   The  National  Institute  of   Occupational
Safety and Health (NIOSH), menyebutkan ada 5 sumber pencemaran
di dalam ruangan  yaitu (Aditama, 2002):
a.  Pencemaran  dari  alat -alat  di  dalam  gedung  seperti  asap  rokok, pestisida, bahan-bahan pembersih ruangan.
b.  Pencemaran  di  luar  gedung  meliputi  masuknya  ga s  buangan kendaraan  bermotor,  gas  dari  cerobong  asap  atau  dapur  yang terletak di dekat gedung, dimana kesemuanya dapat terjadi akibat penempatan lokasi lubang udara yang tidak tepat.
c.  Pencemaran    akibat    bahan    bangunan    meliputi    pencemaran
formaldehid,  lem,  as bes,  fibreglass  dan  bahan -bahan  lain  yang merupakan komponen pembentuk gedung tersebut.
d.  Pencemaran akibat mikroba dapat berupa bakteri, jamur, protozoa dan  produk  mikroba  lainnya  yang  dapat  ditemukan  di  saluran udara dan alat pendingin beserta seluruh sist emnya.
e.  Gangguan  ventilasi  udara  berupa  kurangnya  udara  segar  yang masuk, serta buruknya   distribusi udara dan kurangnya perawatan sistem ventilasi udara.
Kualitas udara di dalam ruangan mempengaruhi kenyamanan lingkungan ruang kerja.   Kualitas  udara  y ang buruk  akan membawa dampak negatif terhadap pekerja /karyawan berupa keluhan gangguan kesehatan.  Dampak   pencemaran  udara  dalam   ruangan  terhadap tubuh  terutama  pada  daerah  tubuh  atau  organ  tubuh  yang  kontak langsung dengan udara meliputi organ sebagai berikut :
1.  Iritasi selaput lendir:  Iritasi  mata,  mata  pedih,  mata  merah,  mata berair
2.  Iritasi  hidung,  bersin,  gatal:  Iritasi  tenggorokan,  sakit  menelan, gatal, batuk kering
3.  Gangguan    neurotoksik:    Sakit    kepala,    lemah/capai,    mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi
4.  Gangguan  paru  dan  pernafasan:  Batuk,  nafas  berbunyi/mengi,
sesak nafas, rasa berat di dada
5.  Gangguan kulit: Kulit kering, kulit gatal
6.  Gangguan saluran cerna: Diare/mencret
7.  Lain-lain:  Gangguan  perilaku,  gangguan  saluran  kencing,  sulit belajar
Keluhan   tersebut   bias anya   tidak   terlalu   parah   dan   tidak menimbulkan kecacatan tetap, tetapi jelas terasa amat mengganggu, tidak    menyenangkan    dan    bahkan    mengakibatkan    menurunnya produktivitas kerja para pekerja.
Permasalahan   yang  diangkat  dalam   penelitian   ini   adalah pengaruh   kualitas   udara   di   ruangan   ber -AC   terhadap   gangguan
kesehatan, yang dapat diperinci sebagai berikut:
1.    Bagaimana  kualitas  mikrobiologi  udara  dalam  ruangan  ber - AC?
2.    Bagaimana kualitas fisik udara (suhu dan kelembaban) dalam ruangan ber-AC?
3.    Apakah macam keluhan penyakit yang dirasakan karyawan di ruangan ber-AC?
4.    Apakah ada pengaruh antara kualitas udara di ruangan ber - AC terhadap gangguan  kesehatan?

 

Tujuan  umum  dalam  penelitian  ini  adalah  mengidentifikasi kualitas mikrobiologi udara dalam ruangan dan gan gguan paparan di ruangan  kerja  ber -AC  pada  gedung  bertingkat  dengan  gangguan kesehatan.  Tujuan  khususnya  antara  lain:  mengidentifikasi  kualitas mikrobiologi  udara  dalam  ruangan  ber -AC,  mengidentifikasi  kualitas fisik  udara  dalam  ruangan  ber -AC,  mengidentif ikasi  macam  keluhan yang dirasakan karyawan di dalam ruangan ber -AC, mengidentifikasi pengaruh  antara  gangguan  paparan  di  ruangan  ber -AC  terhadap gangguan kesehatan.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian  ini  menggunakan  metode  observasional  dengan rancang  bangun  cross-sectional.  Penelitian  ini  dilaksanakan  dengan cara  wawancara,  observasi,  dan  pengukuran  yang  meliputi  suhu,

kelembaban, kecepatan  aliran udara,  dan jumlah total koloni  per  m 3 udara   (kuman,   jamur,   dan   bakteri).   Jumlah   populasi   adalah   94 karyawan  dan  jumlah  sampel  yang  diambil  dengan  cara  purposive sampling  technique  sebanyak  89  orang.  Data  yang  telah  diambil kemudian  dianalisis  secara  deskriptif  dengan  tabulasi  dan  secara analitik menggunakan regresi logistik (α = 0.05).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Lokasi Penelitian
PT.  Infomedia  Nusantara  merupakan  perusahaan  yang  bergerak  di bidang  pelayanan  jasa,  dimana  salah  satu  perwakilannya  berada  di Surabaya   dan   berlokasi   di   jalan   Kusumabangsa   10 -12.   Kantor perwakilan PT. Infomedia Nusantara di Suraba ya terdiri dari 2 lantai yang  didesain  dengan  jendela  tertutup  dan   ventilasi  buatan  ( air conditioning) yang menyebabkan gangguan sirkulasi  udara dan tidak sehatnya  udara  dalam  gedung.  Lokasi  kantor  yang  terletak  di  tepi jalan  raya  serta  halaman  gedung  yan g  digunakan  sebagai  tempat parkir   kendaraan   bermotor   dapat   dikatakan   relatif   dekat   dengan sumber polusi udara luar gedung. Polusi udara di luar gedung dapat menjadi sumber polusi udara dalam gedung.
Produk-produk pembakaran dari kendaraan dan sumber lain yang berasal dari luar gedung dapat masuk ke dalam gedung melalui inlet  sistem  heating,  ventilation,  and  air  conditioning  (HVAC)  suatu gedung.  Hal  ini  didukung  oleh  laporan   The  National  Institute  of Occupational  Safety  and  Health   (NIOSH)  1984  yang  menyata kan bahwa  sebesar  50  %  penyebab  pencemaran  udara  adalah  ventilasi yang tidak adekuat, 11 % sumber polusi udara dalam ruangan berasal dari kontaminan-kontaminan luar ruangan (Godish, 1989).

Karakteristik Karyawan
Karyawan PT. Infomedia Nusantara berjumlah  89 orang yang terdiri dari laki-laki sebesar 64,04% dan perempuan sebesar 36,96% dengan  umur    terbanyak  berada  pada  umur  25 -29  tahun  sebesar
39,32 % dan lebih dari 35 tahun sebesar 35,96%. Pendidikan terakhir yang  telah  ditempuh  sebagian  besar  karyawan  ad alah  S-1  sebesar
73,03%.

Masa Kerja dan Lama Tinggal di Ruangan ber -AC
Karyawan yang bekerja kurang dari lima tahun sebesar 78,65
%  dan  sisanya  (21,35  %)  telah  bekerja  selama  lebih  dari  5  tahun. Lama  tinggal  dalam  ruangan  ber -AC  rata-rata  tiap  harinya  s angat bervariasi  yaitu  antara  6 -8  jam  sebesar  67,42  %,  antara  2 -5  jam sebesar 31,46 % sedangkan sisanya 1,12 % berada di ruangan ber - AC selama kurang dari 2 jam.

Kualitas udara dalam ruangan ber -AC sangat ditentukan oleh sistem  sirkulasi dan aktivitas  yan g dilaksanakan. Pencemaran udara dalam   ruangan   dapat   terjadi   karena   berbagai   aktivitas   seperti merokok,  penggunaaan  alat  atau  bahan  pembersih  ruangan,  mesin fotokopi   yang   menghasilkan   asap   dan   debu   dalam   ruangan. Seseorang yang terpapar dengan polutan ters ebut dalam waktu yang lama akan mengalami keluhan yang lebih besar dibandingkan dengan yang terpapar kurang dari 2 jam/hari.

Sumber Pencemar Udara Ruangan
Dari  89  karyawan,  yang  merasakan  gangguan  akibat  asap  sebesar
31,46 % dan karyawan yang merasakan  gangguan akibat bau -bauan yang tidak sedap yaitu sebesar 69,66 %. Gangguan akibat asap yang dirasakan  karyawan  berasal  dari  asap  rokok,  sedangkan  gangguan bau yang dirasakan karyawan berasal dari bau tempat sampah yang berasal dari kantin, bau minyak wangi dan  pengharum ruangan yang terlalu menyengat.
Aditama (2002), menyatakan bahwa pencemaran udara dapat berasal dari dalam gedung dengan sumber pencemaran diantaranya : aktivitas dalam ruangan, frekuensi keluar masuk ruangan yang tinggi sehingga   memungkinkan   masu knya   polutan   dari   luar   kedalam ruangan, penggunaan pengharum ruangan, asap rokok, penggunaan pestisida  dan  pembersih  ruangan,  mesin  fotokopi,  sirkulasi  udara yang kurang lancer, suhu dan kelembaban udara yang tidak nyaman.

Gangguan Kesehatan Karyawan
Lima gangguan kesehatan tertinggi yang dirasakan karyawan berdasarkan   data   yang   diperoleh   menurut   frekuensi   dan   waktu terjadinya gangguan adalah sebagai berikut:
1.  Gangguan  kesehatan  berupa  mata  gatal  sebanyak  66  karyawan.
Gangguan   yang   terjadi   berdasarkan   fre kuensinya   adalah   45 karyawan  menyatakan  kadang -kadang  sedangkan  21  karyawan menyatakan   jarang.   Gangguan   berdasarkan   waktu   terjadinya adalah siang hari sebanyak  32 karyawan, pagi  hari  sebanyak  21 karyawan, sedangkan sore hari sebanyak 13 karyawan.
2.  Gangguan  kesehatan berupa kulit kering sebanyak  64 karyawan.
Gangguan   yang   terjadi   berdasarkan   frekuensinya   adalah   28 karyawan mengatakan sering, 25 karyawan mengatakan kadang - kadang    dan    11    karyawan    mengatakan    jarang.    Gangguan berdasarkan   waktu   terjadinya   adalah   se panjang    hari   kerja sebanyak  23  karyawan,  sore  hari  dan  pagi  hari  masing -masing sebanyak   20   karyawan,   sedangkan   pagi   hari   sebanyak   1
karyawan.
3.  Gangguan kesehatan berupa sakit kepala sebanyak 59 karyawan.
Gangguan   yang   terjadi   berdasarkan   frekuensinya   adalah    29

karyawan menyatakan kadang -kadang, 28 karyawan menyatakan jarang,    dan    2    karyawan    menyatakan    sering.    Gangguan berdasarkan  waktu  terjadinya  adalah  siang  hari  sebanyak   28 karyawan,   sore   hari   sebanyak   15   karyawan,   pagi   hari   14 karyawan, dan sepanjang hari kerja sebanyak 2 karyawan.
4.  Gangguan kesehatan berupa mata pedih sebanyak 52 karyawan.
Gangguan   yang   terjadi   berdasarkan   frekuensinya   adalah   27 karyawan mengatakan kadang -kadang, 13 karyawan mengatakan sering,    dan    12    karyawan    mengatakan    jarang.    Gangguan berdasarkan   waktu   terjadinya   adalah   sore   hari   sebanyak   15 karyawan,  pagi  hari  dan  sepanjang  hari  kerja  masing -masing sebanyak   12   karyawan,   sedangkan   siang   hari   sebanyak   13 karyawan.
5.  Gangguan   kesehatan   berupa   bersin   sebanyak   51   karyawan.
Gangguan   yang   terjadi   berdasarkan   frekuensinya   adalah   25 karyawan mengatakan kadang -kadang, 19 karyawan mengatakan jarang,    dan    7    karyawan    mengatakan    sering.    Gangguan berdasarkan  waktu  terjadinya  adalah  siang  hari  sebanyak   19 karyawan, pagi hari sebanyak 14 karyawan, sore hari s ebanyak 10 karyawan, dan sepanjang hari kerja sebanyak 8 karyawan.
Gangguan kesehatan yang paling sedikit dirasakan karyawan adalah  mual  sebanyak  19  karyawan  dengan  frekuensi  terjadinya gangguan  adalah  15  karyawan  menyatakan  jarang  dan  4  karyawan menyatakan    kadang-kadang.    Gangguan    berdasarkan    waktu terjadinya  siang  hari  sebanyak  9  karyawan,  sore  hari  sebanyak  6 karyawan, dan pagi hari sebanyak 4 karyawan.

Kualitas Udara dalam Ruangan
Kualitas Fisik Udara
Suhu  udara  sangat  berperan  dalam  kenyamanan  bekerja karena  tubuh  manusia  menghasilkan  panas  yang  digunakan  untuk metabolisme  basal  dan  muskuler.  Namun  dari  semua  energi  yang dihasilkan  tubuh  hanya  20  %  saja  yang  dipergunakan  dan  sisanya akan dibuang ke lingkungan. Jika dibandingkan dengan Standar Baku Mutu   sesuai   Kep.   Men.   Kesehatan   No   261   bahwa   suhu   yang dianggap  nyaman  untuk  suasana  bekerja  18   -  26  ˚C  maka  suhu ruangan pada lantai I dan lantai II masih berada pada standar. Suhu udara  ruang  kerja  yang  terlalu  dingin  dapat  menimbulkan  gangguan kerja  bagi  karyawan,  salah  satunya  gangguan  konsentrasi  dimana pegawai  tidak  dapat  bekerja  dengan  tenang  karena  berusaha  untuk menghilangkan rasa dingin tersebut.
Kelembaban udara yang relatif rendah yaitu kurang dari 20 % dapat menyebabkan kekeringan selaput lendir me mbran, sedangkan kelembaban tinggi akan meningkatkan pertumbuhan mikroorganisme. Hasil pengukuran kelembaban relatif pada lantai I adalah 64  - 68,5 %

sedangkan pada lantai II adalah 73  - 80 %. Jika dibandingkan dengan Standar  Baku  Mutu  sesuai  Kep.  Me n.  Kesehatan  No  261  dimana kelembaban  yang  ideal  berkisar  40 -60  %,  maka  hasil  pengukuran kelembaban pada 2 (dua) lantai tersebut berada di atas standar yang berarti potensial sebagai tempat pertumbuhan mikroorganisme.
Hasil   pengukuran   kecepatan   aliran   udar a   pada   lantai   I berkisar antara    0,04  - 0,07 m/det sedangkan pada lantai II berkisar antara  0,15  -  0,35  m/det.  Menurut  Standard  Baku  Mutu  Kep.  Men. Kesehatan No 261 kecepatan aliran udara berkisar antara 0,15  - 0,25 m/det. Arismunandar dan Saito (1991) m enyatakan bahwa kecepatan aliran udara < 0,1 m/det atau lebih rendah menjadikan ruangan tidak nyaman karena tidak ada pergerakan udara sebaliknya bila kecepatan udara terlalu tinggi akan menyebabkan  cold draft  atau kebisingan di dalam ruangan.

Kualitas Mikrobiologi Udara
Bioaerosol adalah partikel debu yang terdiri atas makhluk hidup atau
sisa yang berasal dari makhluk hidup. Makhluk hidup terutama adalah jamur   dan   bakteri.   Penyebaran   bakteri,   jamur,   dan   virus   pada umumnya  terjadi  melalui  sistem  ventilas i.  Sumber  bioaerosol  ada  2 yakni  yang  berasal  dari  luar  ruangan  dan  dari  perkembangbiakan dalam   ruangan   atau   dari   manusia,   terutama   bila   kondisi   terlalu berdesakan  (crowded).  Pengaruh  kesehatan  yang  ditimbulkan  oleh bioaerosol  ini  terutama  3  macam,  yaitu  i nfeksi,  alergi,  dan  iritasi.. Kontaminasi  bioaerosol  pada sumber air sistem  ventilasi ( humidifier) yang terdistribusi keseluruh ruangan dapat menyebabkan reaksi yang berbagai ragam seperti demam, pilek, sesak nafas dan nyeri otot dan tulang  (Tan  Malaka,  19 98).  Total  koloni  kuman  pada  lantai  I  adalah
1675 CFU/m 3  udara sedangkan lantai II adalah 1387,5 CFU/m 3  udara. Jika dibandingkan dengan Standar Baku Mutu Kep.MenKesehatan RI No  :  261  /MENKES/SK/II/1998  dimana  angka  kuman  adalah  kurang
dari   700   koloni/m 3    udara,  maka  kedua  ruangan   berada  di  atas
standar.  Hasil  pengukuran  total  koloni  bakteri  pada  lantai  I  (6,87
CFU/menit)  lebih  tinggi  dibandingkan  lantai  II  (3,21  CFU/menit)  dan sebagian besar berjenis gram negatif batang. Hasil pengukuran total koloni jamur  pada lantai II adalah 1,94 CFU/menit dan pada lantai II adalah 0,87 CFU/menit. Jika dibandingkan dengan standar NH&MRC
dimana  total  koloni  jamur  adalah  150  CFU/m 3   udara,  maka  kedua ruangan  tersebut  masih  berada  di  bawah  standar.  Pada  usap  AC ditemukan  gram  positif  batang  dan  gram  negatif  batang.  Pencemar yang  bersifat  biologis  terdiri  atas  berbagai  jenis  mikroba  patogen, antara  lain  jamur,  metazoa,  bakteri,  maupun  virus.  Penyakit  yang
disebabkannya   seringkali   diklasifikasikan   sebagai   penyakit   yang
menyebar lewat udara (air-borne diseases) (Soemirat, 2002).

Pengaruh   Kualitas   Fisik   dan   Kualitas   Mikrobiologi   terhadap
Gangguan Kesehatan
Hasil  perhitungan  dengan  menggunakan  uji  statistik  regresi logistik  terlihat  bahwa  ada  dua  variabel  yang  signifikan  terhadap terjadinya gangguan kesehatan, yaitu:
1.  Jamur   berpengaruh   terhadap   terjadinya   gangguan   kesehatan berupa iritasi hidung, artinya semakin banyak jumlah koloni jamur dalam  ruangan  mempunyai  resiko  16,463  kali  lebih  besar  untuk dapat terjadinya iritasi hi dung.
2.  Kuman   berpengaruh   terhadap   terjadinya   gangguan   kesehatan berupa mual, artinya semakin banyak jumlah koloni kuman dalam ruangan  mempunyai  resiko  1,008  kali  lebih  besar  untuk  dapat terjadinya mual.
Variabel   lainnya   yang   tidak   signifikan ,   belum   tentu   tidak memberikan  pengaruh  terhadap  gangguan  kesehatan  yang  timbul. Hal  ini  disebabkan  oleh  beberapa  faktor,  yaitu  :  banyaknya  faktor yang   berpotensi   mempengaruhi   kualitas   udara   lingkungan   kerja, gangguan  kesehatan  yang  terjadi  tidak  bersifat  spesifik  dan  dapat merupakan   gejala-gejala   dari   penyakit   lain,   penyebab   terjadinya
gangguan  kesehatan  tersebut  dipengaruhi  banyak  faktor  lain.  Tan
Malaka   (1998)   menyatakan   bahwa   intensitas   pengaruh   berbagai faktor  yang  dapat  mempengaruhi  lingkungan  kerja  tergantung  lokasi dan proses yang ada. Walaupun tidak semua dominan, namun faktor - faktor tersebut selalu ada dalam lingkungan kerja.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Berdasarkan  hasil  analisis  yang  telah  dilakukan  terhadap
kualitas   fisik   udara,   kualitas   mikrobiologi   udara    dan   gangguan kesehatan yang dirasakan karyawan di dalam ruangan ber -AC, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1.  PT.  Infomedia  Nusantara  Surabaya  memiliki  karyawan  sebanyak
94 orang.  Masa kerja sebagian besar karyawan (78,65 %) kurang dari lima tahun dan rata-rata lama tinggal dalam  ruangan ber -AC setiap harinya 6-8 jam.
2.  Sumber  pencemar  udara ruangan  yang dirasakan  oleh  karyawan berupa asap dan bau -bauan yang tidak sedap. Sumber pencemar asap   tersebut   berasal   dari   asap   rokok,   sedangkan   sumber pencemar  bau-bauan  berasal  dari  bau  sampah  dari  kantin,  bau minyak wangi dan pengharum ruangan yang terlalu menyengat.
3.  Gangguan  kesehatan  yang  dirasakan  karyawan  berurutan  dari yang terbanyak adalah iritasi kulit (75,28 %), iritasi mata (74,36 %),
iritasi  hidung  (73,03  %),  gangguan  saraf  (66,29  %),  gangguan saluran pernafasan (46,07 %), mual (21,35 %).

4.  Kelembaban udara dan kecepatan aliran udara di lokasi penelitian melebihi  Standar  Baku  Mutu  Kep.Men.Kesehatan  RI  No :  261/ MENKES/SK/II/1998, sedangkan untuk  suhu udara ruangan masih berada   pada   suhu   nyaman   kerja   yang   berarti   tidak   melebihi Standar  Baku  Mutu  Keputusan   Menteri  Kesehatan  RI  N o:  261
/MENKES/SK/II/1998.
5.  Jumlah  total  koloni  kuman  di  lokasi  penelitian  melebihi  Standar Baku Mutu Kep.Men.Kesehatan RI No : 261 /MENKES/SK/II/1998. Sedangkan  jumlah  total  koloni  jamur  di  lokasi  penelitian  masih berada di bawah standar NH dan MRC.
6.  Dari  hasil  perhitungan  regresi  logistik  diperoleh  variabel  yang berpengaruh  (p  =  0.048)  terhadap  gangguan  kesehatan  berupa iritasi  hidung  adalah  jamur  dan  variabel  yang  berpengaruh  (p  =
0.020) terhadap gangguan kesehatan berupa mual adalah kuman, sedangkan   variabel   yang   lain   tidak   berpengaruh   (p   >   0.05) terhadap gangguan kesehatan.

Saran
1.  Memberdayakan  seluruh   manajer   dan   pekerja/karyawan  untuk meningkatkan   kebersihan   lingkungan   kerja   melalui   penataan ruangan  kerja,  penataan  arsip  dan  berkas  dalam  lemari sesudah bekerja,    dan    kebersihan    peralatan    kerja    termasuk    budaya membersihkan  ruangan  setiap  hari  dan  perangkat  AC  secara berkala.
2.  Pemeriksaan kualitas  udara dalam ruangan secara berkala sesuai parameter  kualitas  udara  (kualitas  fisik,  kimia ,  dan  mikrobiologi) agar tercipta lingkungan kerja yang sehat.
3.  Monitoring   kesehatan   dengan   pemeriksaan   kesehatan   secara berkala  untuk  mengetahui  sejak  dini  gangguan  ke sehatan  yang terjadi
4.  Perlu  dilakukan  penelitian  lanjutan  tentang  jenis  mikroorganisme patogen  yang  ada  di  ruangan  mengingat  jumlah  koloni  kuman yang melebihi standar baku mutu dan banyaknya karyawan yang mengalami   gangguan   kesehatan,   sehingga   dapat   ditetap kan standar baku mutu kualitas mikrobiologi udara dalam ruangan.
5.  Lebih   ditingkatkan   kualitas   perawatan   AC   mengingat   masih banyaknya gangguan kesehatan yang dialami karyawan.
6.  Disediakan   ruangan   khusus   untuk   karyawan   yang   merokok dilengkapi dengan Local Exhaust Ventilation.

 

PENDAHULUAN
Arsen (As) merupakan bahan kimia beracun, yang secara alami ada di alam. Selain dapat ditemukan di udara, air maupun makanan, arsen juga dapat ditemukan di industri seperti industri pestisida, proses pengecoran logam maupun pusat tenaga geotermal. Elemen yang mengandung arsen dalam jumlah sedikit atau komponen arsen organik (biasanya ditemukan pada produk laut seperti ikan laut) biasanya tidak beracun (tidak toksik).
Arsen dapat dalam bentuk in organik bervalensi tiga dan bervalensi lima. Bentuk in organik arsen bervalensi tiga adalah arsenik trioksid, sodium arsenik, dan arsenik triklorida.,  sedangkan  bentuk in organik arsen bervalensi lima adalah arsenik pentosida, asam arsenik, dan arsenat (Pb arsenat, Ca arsenat). Arsen bervalensi tiga (trioksid) merupakan bahan kimia yang cukup potensial untuk menimbulkan terjadinya  keracunan akut.
Pada penelitian yang dilakukan di USA tahun 1964 ditemukan kadar tahunan arsen di udara sekitar industri pengecoran logam berkisar antara 0,01  - 0,75 ug / m3, namun di dekat cerobong asap kadarnya melebihi 1 ug / m3.  Kadar arsen dalam air minum di berbagai negara sangat bervariasi. Kadar arsen dalam air minum di USA kurang dari 0,01 – 0,05 mg / L, di Jepang  sekitar 1,7 mg / L, di Taiwan (sumur artesis) sekitar 1,8 mg / L, sedangkan di Cordoba (Argentina) sekitar 3,4 mg / L.
Di USA,  makanan dan buah-buahan yang dikonsumsi setiap hari mengandung sekitar 0,04 mg As. Makanan produk laut yang dikonsumsi harian mengandung 0,02 mg As. Normal, manusia setiap harinya mengkonsumsi 0,03 mg  arsen.

FUNGSI ARSEN
Logam arsenik biasanya digunakan sebagai bahan campuran untuk mengeraskan logam lain misalnya mengeraskan Pb di pabrik aki atau melapisi kabel. Arsenik trioksid dan arsenik pentoksid biasanya dipakai di pabrik kalsium, tembaga dan pestisida Pb arsenat. Komponen arsenik seringkali pula dipakai pula untuk memberi warna (pigmen) dan agen pemurni dalam pabrik gelas, sebagai bahan pengawet dalam penyamakan atau pengawet kapas, ataupun sebagai herbisida. Bahan kimia copper acetoarsenit terkenal sebagai bahan pengawet kayu. Bahan arsenilik digunakan dalam obat-obatan hewan maupun bahan tambahan makanan hewan. Gas arsen dan komponen arsenik lainnya seringkali digunakan dalam industri mikroelektronik dan industri bahan gallium arsenide.

PAPARAN TERHADAP TEMPAT KERJA DAN LINGKUNGAN
Paparan arsen di tempat kerja terutama dalam bentuk arsenik trioksid dapat terjadi pada industri pengecoran Pb (timbal), coper (tembaga), emas maupun logam non besi yang lain.. Beberapa industri yang juga mempunyai potensi untuk memberi paparan bahan kimia arsen adalah industri pestisida / herbisida,  industri bahan pengawet, industri mikro elketronik dan industri farmasi / obat-obatan. Pada industri tersebut, arsenik trioksid dapat bercampuran dengan debu, sehingga udara dan air di industri pestisida dan kegiatan peleburan mempunyai risiko untuk terpapar kontaminan arsen.
Paparan yang berasal dari “bukan tempat kerja” (non occupational exposure) adalah air sumur, susu bubuk, saus dan minuman keras yang terkontaminasi arsen serta asap rokok.

ABSORBSI, METABOLISME DAN EKSKRESI ARSEN
Bahan kimia arsen dapat masuk ke dalam tubuh melalui saluran pencernaan makanan, saluran pernafasan serta melalui kulit walaupun jumlahnya sangat terbatas. Arsen yang masuk ke dalam peredaran darah dapat ditimbun dalam organ seperti hati, ginjal, otot, tulang, kulit dan rambut.
Arsenik trioksid yang dapat disimpan di kuku dan rambut dapat mempengaruhi enzim yang berperan dalam rantai respirasi, metabolisme glutation ataupun enzim yang berperan dalam proses perbaikan DNA yang rusak.  Didalam tubuh arsenik bervalensi lima dapat berubah menjadi arsenik bervalensi tiga. Hasil metabolisme dari arsenik bervalensi 3 adalah asam dimetil arsenik dan asam mono metil arsenik yang keduanya dapat diekskresi melalui urine.
Gas arsin terbentuk dari reaksi antara hidrogen dan arsen yang merupakan hasil samping dari proses refining (pemurnian logam) non besi (non ferrous metal). Keracunan gas arsin biasanya bersifat akut dengan gejala mual, muntah, nafas pendek dan sakit kepala. Jika paparan terus berlanjut dapat menimbulkan gejala hemoglobinuria dan anemia, gagal ginjal dan ikterus (gangguan hati).

GEJALA KLINIK KERACUNAN ARSEN
Menurut Casarett dan Doull’s (1986), menentukan indikator biologi dari keracunan arsen merupakan hal yang sangat penting. Arsen mempunyai waktu paruh yang singkat (hanya beberapa hari), sehingga dapat ditemukan dalam darah hanya pada saat terjadinya paparan akut. Untuk paparan kronis dari arsen tidak lazim dilakukan penilaian.

Paparan akut
Paparan akut dapat terjadi jika tertelan (ingestion) sejumlah 100 mg As. Gejala yang dapat timbul akibat paparan akut adalah mual, muntah, nyeri perut, diarrhae, kedinginan, kram otot serta oedeme dibagian muka (facial). Paparan dengan dosis besar dapat menyebabkan koma dan kolapsnya peredaran darah. Dosis fatal adalah jika sebanyak 120 mg arsenik trioksid masuk ke dalam tubuh.

Paparan kronis
Gejala klinis yang nampak pada paparan kronis dari arsen adalah peripheral neuropathy (rasa kesemutan atau mati rasa), lelah, hilangnya refleks, anemia, gangguan jantung, gangguan hati, gangguan ginjal, keratosis telapak tangan maupun kaki, hiperpigmentasi kulit dan dermatitis. Gejala khusus yang dapat terjadi akibat terpapar debu yang mengandung arsen adalah nyeri tenggorokan serta batuk yang dapat mengeluarkan darah akibat terjadinya iritasi. Seperti halnya akibat terpapar asap rokok, terpapar arsen secara menahun dapat menyebabkan terjadinya kanker paru.

PEMERIKSAN LABORATORIUM YANG PERLU DILAKUKAN
1, Pemeriksaan darah
Pada keracunan akut maupun kronis dapat terjadinya anemia, leukopenia, hiperbilirubinemia.
2.Pemeriksaan urine
Pada keracunan akut dan kronis dapat terjadi proteinuria, hemoglobinuria maupun hematuria.
3.Pemeriksaan fungsi hati
Pada keracunan akut dan kronis dapat terjadi peningkatan enzim transaminase serta bilirubin.
4.Pemeriksaan jantung
Pada keracunan akut dan kronis dapat terjadi gangguan ritme maupun konduksi jantung.
5. Pemeriksaan kadar arsen dalam tubuh
Arsenik dalam urine merupakan indikator keracunan arsen yang terbaik bagi pekerja yang terpapar arsen. Normal kadar arsen dalam urine kurang dari 50ug/L
Kadar As dalam rambut juga merupakan indikator yang cukup baik untuk menilai terjadinya karacunan arsen. Normal kadar As dalam rambut kurang dari 1mug/kg
Walaupun tidak ada pemeriksaan biokimia yang spesifik untuk melihat terjadinya keracunan arsen, namun gejala klinik akibat keracunan As yang dihubungkan dengan mempertimbangkan sejarah paparan merupakan hal yang cukup penting. Perlu diingat bahwa seseorang dengan kelainan laboratorium seperti di atas tidak selalu disebabkan oleh terpapar atau keracunan arsen. Banyak faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya kelainan seperti di atas.

PENCEGAHAN  TERJADINYA PAPARAN ARSEN
Usaha pencegahan terjadinya paparan arsen secara umum  adalah pemakaian alat proteksi diri bagi semua individu yang mempunyai potensi terpapar oleh arsen. Alat proteksi diri tersebut misalnya :
- Masker yang memadai
- Sarung tangan yang memadai
- Tutup kepala
- Kacamata khusus
Usaha pencegahan lain adalah melakukan surveilance medis, yaitu pemeriksaan kesehatan dan laboratorium yang dilakukan secara rutin setiap tahun. Jika keadaan dianggap luar biasa, dapat dilakukan biomonitoring arsen di dalam urine.
Usaha pencegahan agar lingkungan kerja terbebas dari kadar arsen yang berlebihan adalah perlu dilakukan pemeriksaan kualitas udara (indoor), terutama kadar arsen dalam patikel debu. Pemeriksaan kualitas udara tersebut setidaknya dilakukan setiap tiga bulan. Ventilasi tempat kerja harus baik, agar sirkulasi udara dapat lancar.

PENGOBATAN KERACUNAN ARSEN
Pada keracuna arsen akibat tertelan arsen, tindakan yang terpenting adalah merangsang refleks muntah. Jika penderita tidak sadar (shock) perlu diberikan infus. Antdote untuk keracunan arsen adalah injeksi dimerkaprol atau BAL (British Anti Lewisite).

PROGNOSIS
Pada keracunan akut, jika dilakukan penanganan dengan baik dan penderita dapat bertahan, maka akan kembali normal setelah sekitar 1 minggu atau lebih. Pada keracunan kronis akan kembali normal dalam waktu 6 – 12 bulan.

 

I. PERLUNYA ADKL DIJADIKAN PROGRAM KESEHATAN

Sumber daya manusia merupakan salah satu faktor penentu dalam upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia diperlukan tingkat kesehatan manusia yang optimal. Oleh sebab itu untuk menjamin kualitas sumber daya manusia dalam segi kesehatan agar mampu berkompetisi diperlukan suatu perencanaan program kesehatan dan perlindungan hukum yang memadai.

Perlindungan terhadap lingkungan hidup dari rencana usaha kegiatan ditetapkan melalui UU No. 23  tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup. Hal ini tercermin bahwa setiap rencana usaha/kegiatan yang mempunyai dampak penting wajib dilengkapi dengan suatu AMDAL. Di dalam Undang-undang lingkungan hidup dan pedoman pelaksanaannya secara jelas belum nampak ketentuan perundangan terhadap analisis dampak pada kesehatan masyarakat/ kesehatan lingkungan.

Telah diketahui bahwa derajat kesehatan individu/masyarakat tergantung kepada kondisi “Host” (individu), ”agent” (penyebab penyakit), dan “environment” (lingkungan). Faktor lingkungan merupakan unsur penentu terjadinya sakit/sehat pada masyarakat. Dengan demikian apabila terjadi perubahan lingkungan menjadi jelas disekitar manusia, maka akan terjadi pula perubahan pada kondisi kesehatan masyarakat dan kesehatan lingkungan masyarakat tersebut. Dengan demikian maka studi analisis mengenai dampak lingkungan yang idealnya melindungi masyarakat, memasukkan pula metode analisis dampak kesehatan lingkungan (ADKL).

Perlunya ADKL pada perlindungan terhadap lingkungan hidup dari rencana usaha/kegiatan dijelaskan pula oleh organisasi kesehatan dunia (WHO). Pertemuan WHO pada tahun 1987 di Copenhagen yang bertema “Health and Safety  Component of Environmental Inpact Assessment” menyatakan bahwa perlunya model Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan (“Environmental Health Inpact Assessment/EHIA”) untuk memadukan program analisis kesehatan dengan analisis dampak lingkungan yang lebih menekankan komponen kesehatan.

Majelis Kesehatan Sedunia (“World Health Assembly”) pada tahun 1981 mencanangkan strategi sehat untuk semua di tahun 2000. Pada tahun 1986, strategi tersebut diteruskan dengan “Ottawa Charter” yang merupakan hasil keputusan dari : “International Conference on Health Promotion”. Pandangan WHO tersebut dapat disebut sebagai konsep baru kesehatan masyarakat. Konsep tersebut menyatakan bahwa :

“Keadaan yang mendasar dan sumber untuk kesehtan adalah keadaan damai, pemukiman, pangan, pendidikan, pendapatan, ekosistem yang seimbang, sumber daya alam yang meningkat pemanfaatannya, keadilan sosial dan pemerataan aspek kehidupan”.

Apabila  dicermati, konsep oleh WHO tersebut mengutamakan pada pencegahan penyakit. Konsep pencegahan penyakit akan memberikan implikasi prediksi dan analisis tentang dampak negatif kegiatan pembangunan terhadap kesehatan. Pada saat itu, badan dunia tersebut menyatakan bahwa komponen kesehatan lingkungan sering diabaikan dalam proses analisis dampak lingkungan. Dengan keadaan tersebut, WHO menekankan tentang perlunya penelitian dampak kesehatan lingkungan pada proyek pembangunan.

Pada tahun 1986, kelompok kerja WHO memantapkan empat prinsip dasar yang berhubungan dengan analisis dampak lingkungan, yaitu :

1)Kesehatan masyarakat yang terkena dampak pembangunan merupakan salah satu pertimbangan penting dan mendasar dalam menyusun perencanaan, kebijakan dan pelaksanaan proyek pembangunan.

2)Dampak kesehatan masyarakat yang mungkin timbul sebagai akibat dari pelaksanaan program pembangunan harus lebih mendapat perhatian.

3)Analisis dampak lingkungan (ANDAL) harus dapat memberikan informasi yang tepat tentang dampak kesehatan dari pembangunan sebuah proyek.

4)Informasi lengkap perihal dampak kesehatan tersebut harus disampaikan kepada masyarakat.

2.  KONSEP KETERPADUAN ANALISIS DAMPAK KESEHATAN LINGKUNGAN

Untuk menelaah kedua konsep yaitu Analisis Dampak Lingkungan dan Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan diperlukan rincian kerangka dasar model dari kedua konsep tersebut.

Menurut Brown dan Mc. Donald (1988) kerangka dasar dari Analisis Dampak Lingkungan adalah sebagai berikut :

Bagan I

Kerangka Dasar Analisis Dampak Lingkungan

Pengumpulan data dasar :    rincian tentang kondisi lingkungan pada saat ini dan masa mendatang untuk bahan masukan perencanaan pembangunan.
Identifikasi dampak :    identifikasi dampak yang mungkin timbul dan pemilihan prioritas dampak untuk analisis yang lebih rinci, dengan  cara “check list”.
Prediksi :    melakukan prakiraan besarnya perubahan yang terjadi .
Evaluasi :    pentingnya perubahan yang terjadi untuk tingkat nasional khususnya beberapa hal yang berhubungan dengan tujuan nasional di bidang sosial ekonomi.
Mitigasi :    mengurangi dampak negatip dan memaksimalkan dampak positip.

 

 

 

Komunikasi :    menyebarluaskan macam, kualitas dan kuantitas dampak yang mungkin terjadi kepada masyarakat dan lembaga terkait.
Pemantauan :    melakukan pengukuran dan memberikan umpan balik tentang dampak pembangunan.

 

Sumber : Brown dan Mc Donald (1988)

Bagan II

Model Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan

Rincian Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan, adalah analisis :a.dampak secara langsung terhadap parameter lingkunganb.dampak tidak langsung terhadap parameter lingkunganc.parameter lingkungan yang berhubungan dengan kesehatand.adanya peningkatan pemaparan

e.adanya peningkatan populasi berisiko tinggi

f.dampak kesehatan (angka kesakitan dan kematian)

Sumber : WHO, (1987)

Pada bagan I dan bagan II tampak ada kalimaat yang isi dan maknanya mengandung kesesuaian

Pada tahap analisis dampak kesehatan lingkungan langsung dan tidak langsung seperti yang tertulis dalam ad a dan ad b (bagan II) ada kesesuaian dengan tahap pengumpulan data dasar seperti yang tertulis pada bagan I. Sedangkan identitas parameter lingkungan seperti yang tertulis dalam ad c (bagan II) ada kesesuaian dengan proses identifikasi dampak pada bagan I, yaitu proses identifikasi dampak lingkungan yang berhubungan dengan kesehatan lingkungan. Selanjutnya proses analisis adanya peningkatan pemaparan pada ad d (bagan II), merupakan komponen analisis pemaparan pada masyarakat yang terkandung di dalam seluruh proses analisis dampak kesehatan lingkungan.

Prakiraan adanya peningkatan pemaparan tergantung dari metode yang digunakan misalnya dengan metode bagan alir. Sedangkan prakiraan tentang adanya peningkatan populasi risiko tinggi (“high risk”) digunakan misalnya dengan metode “risk analysis”. Prakiraan tentang tingkat morbiditas dan mortalitas, perlu data bidang kesehatan dari Rumah Sakit/Puskesmas dan hal ini sering terabaikan dalam proses analisis dampak lingkungan.

Pada bagan I dan II nampak kedua model tersebut baik analisis dampak lingkungan dan analisis dampak kesehatan lingkungan penekanannya masih terbatas pada “environmental illness” (sakit karena faktor lingkungan) dan belum banyak menjamah permasalahan ”quality of life” (kualitas hidup). Dengan demikian maka proses analisis yang baik harus melibatkan analisis dampak kesehatan lingkungan secara menyeluruh termasuk komponen sosial-ekonomi-kesehatan.

Komponen yang berhubungan dengan faktor fisik, kimia, biologi, sosial-ekonomi-kesehatan adalah sebagai berikut :

a.Kualitas lingkungan fisik, kimia dan biologi termasuk kualitas udara, air, kebisingan dll.

b.Kualitas diet, sebagai sumber informasi adalah ilmu gizi dan kedokteran.

c.Kualitas penyakit dan kesehatan jiwa, harus bersumber dari ilmu kedokteran, biologi, psikiatri dan psikologi.

d.Kualitas pekerjaan dan jaringan masyarakat bermuara pada disiplin ekonomi, sosiologi, dan antropologi.

e.Kualitas pemukiman dan aksesibilitas bersumber pada ilmu geografi, perencanaan dan arsitektur.


3. BERBAGAI KEGIATAN DENGAN ISSUE POKOK DAMPAK

    KESEHATAN

 

Berbagai kegiatan yang menimbulkan dampak penting terhadap kesehatan lingkungan antara lain :

1. Kegiatan bidang kesehatan

Kegiatan bidang ini berpotensi memiliki dampak terhadap kesehatan antara lain berasal dari Rumah Sakit baik Rumah Sakit Umum maupun Rumah Sakit Spesialistik. Sumber pencemar dari kegiatan ini antara lain sisa operasi dan buangan limbah terinfeksi yang dapat menularkan penyakit melalui kuman parasit atau vektor. Kegiatan lainnya seperti laboratorium klinik, mikrobiologi kesehatan, industri farmasi, industri makanan kesehatan dan alat-alat kesehatan.

2. Kegiatan bidang industri

Kegiatan bidang industri sering merupakan sumber masalah gangguan terhadap kesehatan lingkungan. Kegiatan bidang industri, dipengaruhi oleh beberapa faktor lain, jenis produk, bahan baku, proses maupun jenis limbah sendiri. Dengan demikian, kegiatan bidang industri akan mengeluarkan limbah cair, limbah gas/partikel dan limbah padat.

Menurut World Health Organization, World Bank dan United Nations Enviromental Program  kelompok industri yang berpotensi menimbulkan bahaya terhadap kesehatan adalah sebagai berikut :

a)Industri Pertanian, Kehutanan, dan Makanan

Kegiatan industri ini memiliki potensi dampak terhadap kesehatan masyarakat, karena mengeluarkan limbah dari bahan-bahan kimia dalam proses produksinya. Disamping itu juga kemungkinan adanya parasit dan mikroba pada limbah industri makanan.

b)Industri Ekstraksi Mineral (tidak termasuk hidrokarbon)

Penambangan ini memungkinkan berkembangnya vektor dan parasit pada lubang bekas galian (“quary”) yang tergenang air, sehingga menimbulkan bahaya terhadap kesehatan masyarakat.

c)Industri Logam

Kegiatan industri ini meliputi besi, metalurgi non-besi, pengerjaan logam yang mengeluarkan bahan kimia lainnya. Limbah berpengaruh secara kronis terhadap kesehatan masyarakat.

d)Industri Energi

Jenis industri ini dapat dilihat pada kegiatan Pertambangan dan Energi. Dapat mengeluarkan limbah cair, gas, suhu panas (meningkatkan suhu air laut).

e)Pengolahan hasil Mineral bukan Logam

Kegiatan industri ini meliputi antara lain bahan konstruksi, keramik, gelas, dan asbestos. Pengaruh industri ini adalah gangguan terhadap pernafasan secara kronis.

f)Industri kimia dan idustri yang terkait

Macam industri ini sangat beragam dari industri bukan bangunan, fotografi sampai biosida. Limbah yang dihasilkan merupakan bahan kimia berbahaya dan beracun (BBB) yang dapat menimbulkan dampak kronis maupun akut.

g)Industri barang logam, Rekayasa dan Kendaraan

Limbah industri ini mengandung logam berat maupun bahan kimia lainnya yang menimbulkan bahaya terhadap kesehatan.

h)Industri Tekstil, Kulit, Timber dan Barang Kayu

Limbah industri ini mengandung bahan kimia yang potensial berpengaruh terhadap perairan dan kesehatan masyarakat/lingkungan.

i)Industri Kertas dan Produknya, Percetakan dan Penerbitan

Limbah industri ini menimbulkan gangguan pernapasan terhadap pekerja maupun gangguan terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan.

j)Pelayanan Medis, Sanitasi dan Laboratorium Kesehatan

Kegiatan kelompok ini masuk dalam bidang kesehatan. Mengeluarkan limbah medis dan limbah kimia yang mengganggu kesehatan masyarakat dan lingkungan.

k)Komersial dan Tempat Umum

Pengaruh yang ditimbulkan antara lain berkembangnya vektor atau parasit pada limbah padat yang mudah membusuk antara lain kegiatan pasar dan restoran.

3. Kegiatan Pertambangan dan Energi

a)Pertambangan Minyak dan Gas

Penambangan minyak dan gas mempunyai potensi dampak penting terhadap kesehatan masyarakat/lingkungan. Menghasilkan limbah gas yang dapat menurunkan kualitas udara dan limbah cair yang dapat menurunkan kualitas perairan, serta  sangat potensial menimbulkan resiko bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan.

Limbah proses yang mengandung logam berat akan menyebabkan gangguan kesehatan karena akumulasinya di dalam tubuh melalui makanan.

b)Penambangan Logam, Mineral dan Bahan Radio Aktif

Penambangan logam dan prosesnya akan menimbulkan limbah yang membawa serta logam berat. Limbah ini akan terakumulasi pada rantai makanan yang berbahaya bagi kehidupan manusia.

Disisi lain bekas galian/penambangan yang berupa kolam-kolam penambangan apabila terisi air sangat potensial sebagai habitat vektor yang dapat menularkan penyakit, antara lain : Malaria dan Demam Berdarah Dengue.

c)Pembangkit Tenaga Listrik

1) Tenaga Panas Bumi

Pengambilan tenaga panas bumi berpotensi untuk menimbulkan gas beracun yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat

2) Bahan Baku Minyak dan Batu Bara

Penggunaan bahan baku dari bahan fosil (Migas dan batu bara) sangat potensial menyebabkan pencemaran udara berupa limbah emisi gas seperti CO, SO2 dan partikel yang sangat potensial menimbulkan dampak terhadap kesehatan masyarakat.

d)Tenaga Nuklir

Pembangkit tenaga nuklir mempunyai  potensial untuk mengeluarkan limbah radioaktif yang akan menimbulkan dampak penting terhadap kesehatan masyarakat  secara luas.

4. Kegiatan Transmigrasi

a)Cetak Sawah

Pembukaan hutan untuk areal persawahan merupakan areal yang potensial sebagai media/habitat vektor. Habitat vektor ini potensial menimbulkan dampak penting terhadap kesehatan dan dapat terjadi secara periodik setiap tahun/setiap musim.

b)Pemindahan Penduduk

Pemindahan penduduk dari daerah asal ketempat yang baru, di dalam interaksinya sangat potensial sebagai pembawa penyakit/penularan penyakit. Penularan penyakit ini tidak tergantung dari jumlah manusia yang menularkan tetapi ditentukan oleh sumber penularan dari salah satu kelompok masyarakat dan lama waktu penyakit tersebut berjangkit. Potensi dampak ini sangat penting terhadap kesehatan masyarakat.

5. Kegiatan Pariwisata

Aktivitas pariwisata secara tidak langsung memiliki potensi terhadap penularan dan penyebaran penyakit. Interaksi wisatawan lokal maupun dari mancanegara, dari suatu daerah ke daerah lain, merupakan sumber dampak penting bagi kesehatan masyarakat baik melalui vektor maupun penularan penyakit secara langsung.

6. Kegiatan Riset dan Teknologi

Pengembangan bidang riset dan teknologi yang menggunakan bahan-bahan kimia, radioaktif, maupun mikroba serta mahluk hidup lainnya. Mempunyai dampak yang sangat potensial terhadap kesehatan. Sebagai contoh adalah laboratorium biotek/farmasi dikhawatirkan akan menimbulkan resistensi  terhadap penyakit atau timbulnya strain baru.

7. Penggunaan Tenaga Atom

Penggunaan tenaga atom/radioisotop sangat potensial/menimbulkan dampak penting terhadap  kesehatan dan lingkungan. Paparan radiasi terhadap tubuh manusia dapat secara langsung atau melalui organisme lain yang terkontaminasi oleh limbah radioaktif. Semua kegiatan yang memakai bahan radioisotop, pengawasan keselamatannya dilakukan oleh Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN).

8. Pekerjaan Umum

a. Pengairan

1) Pembangunan dam Irigasi

Pembangunan untuk irigasi sangat potensial untuk perkembangbiakan vektor dan penyakit yang berkaitan dengan Water Born Disease. Sebagai contoh adalah penyakit kaki gajah, malaria dan penyakit muntah-berak.

2) Cetak Sawah

Cetak sawah sangat potensial terhadap perkembangan penyakit yang berkaitan dengan karakter Water Born Disease (Penyakit disentri, tifus dan muntah-berak).

b. Cipta Karya

Pembangunan perumahan sangat potensial untuk perkembangbiakan vektor. Tingkat penularan penyakit akan bertambah karena bertambahnya frekuensi interaksi antar masyarakat penghuni perumahan.


c. Bina Marga

Pembangunan jalan sebagai sarana transportasi perlu perhatian  berhubung kaitannya dengan penularan penyakit dari wilayah satu terhadap wilayah lain.

9. Pertahanan dan Keamanan

Departemen Hankam memiliki industri strategis untuk persenjataan yang berkaitan dengan unsur fisik-kimia, maupun biologis yang termasuk bahan berbahaya beracun. Bahan tersebut sangat potensial sebagai sumber dampak penting terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan.

4.  PARADIGMA (KONSEP/MODEL) KESEHATAN LINGKUNGAN

Mitigasi/Program Kesehatan Lingkungan

Sumber Perubahan (Proyek/Kegiatan)

Air

Udara

Tanah

Unsur Makanan Vektor/Binatang

Manusia

Masyarakat (sex/umur, lokasi, dll)

Sehat

 

Sakit

Sumber perubahan sekunder

(pendatang baru, transpoart.

perdagangan, industri kecil, dll)

Simpul A                          Simpul B                          Simpul C                         Simpul D

Sumber perubahan dapat berupa kegiatan manusia, seperti pabrik, transpotasi, pemukiman dan dapat pula berupa peristiwa alamiah seperti gunung berapi dan reaksi kimia alamiah yang terjadi di atmosfer.

Komponen lingkungan yang selalu berinteraksi dengan manusia dan seringkali mengalami perubahan akibat adanya kegiatan manusia yang berupa proyek/kegiatan   adalah : air, udara, makanan, vektor/binatang penular penyakit, dan manusia itu sendiri. Perubahan dari unsur tersebut akan mengandung suatu risiko penyakit. Risiko penyakit akan timbul karena menumpang pada “vehicle” air, udara, makanan, binatang penular penyakit (vektor) dan bahkan manusia sendiri. Dengan demikian dalam konsep kesehatan lingkungan, status kesehatan masyarakat merupakan resultante dari  hasil hubungan interaksi antara masyarakat dengan berbagai komponen lingkungan seperti air, udara, makanan, vektor/binatang penular penyakit, tanah, dan manusia itu sendiri yang mengandung berbagai penyebab sakit seperti faktor fisik, kimia dan biologi.

Masyarakat yang mempunyai risiko tinggi untuk menderita penyakit akibat dari faktor sumber, perlu dilakukan pengukuran spesimen tubuh manusia. Hasil pengukuran tersebut sebagai tanda biologis (“biological marker”) yang dapat dianggap sebagai bio-indikator. Sebagai contoh tanda biologis adalah pengukuran merkuri pada kuku, rambut, serta timbal di dalam darah. Apabila kadar logam berat tersebut melebihi nilai ambang batas, maka merupakan bio-indikator bahwa manusia tersebut keracunan merkuri atau timbal.

Apabila sudah terjadi kelainan penyakit, dapat dihitung secara epidemiologis. Prevalensi dari berbagai penyakit akibat interaksi antara masyarakat dengan sumber penyebab penyakit.


5. METODE ANALISIS DAMPAK KESEHATAN LINGKUNGAN

1)  Metode pengumpulan data

Pengumpulan data rona lingkungan awal dari aspek potensi kesehatan harus mengikuti paradigma kesehatan lingkungan.

Rona lingkungan awal dapat berfungsi sebagai dasar prakiraan dampak (“basic prediction of impact”) yang mencakup informasi sebagai berikut :

a) Potensi daya dukung (“Carrying Capacity”) lingkungan

b) Potensi kerawanan/kesehatan masyarakat

c) Informasi kelentingan

Ketentuan Pengumpulan Data

Faktor yang diperhatikan dalam pengumpulan data dalah :

a) Penetapan parameter kunci dan batas wilayah studi.

Parameter kunci (parameter utama) merupakan faktor penting dalam menetapkan batas wilayah studi, yaitu seberapa luas dampak akan menyebar. Batas wilayah studi dari suatu rencana kegiatan akan memudahkan dalam menetapkan parameter penunjang.

b) Penentuan letak dan jumlah sampel

Penentuan letak sampel harus memperhatikan aspek keseluruhan sistem yang dikaitkan dengan sumber dampak. Sedangkan penentuan jumlah sampel harus berpedoman pada azas keterwakilan dari unit sistem yang tercakup dalam ruang batas studi.

c) Intensitas pengambilan sampel

Harus memperhatikan faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap perilaku parameter kunci maupun penunjang.

Faktor lingkungan tersebut, antar lain : perubahan musim  dan penyinaran, perubahan suhu dan kelembaban, topografi, geografi serta sistem pembuangan limbah.

d) Jangka waktu pemeriksaan sampel

Dengan memperhatikan ciri parameter, perlu ditentukan kapan dan berapa lama batas waktu bagi parameter kimia/biologi/kesehatan harus cepat diperiksa/dianalisis agar supaya tidak kadaluwarsa.

e) Sistem pengawetan dan fiksasi sampel

Bagi parameter yang tidak memungkinkan untuk secepatnya dianalisis dalam laboratorium, perlu perlindungan sampel yaitu dengan pengawetan/fiksasi atau menjaga pada suhu tertentu agar sampel tidak rusak.

f) Kalibrasi instrumen

Kalibrasi instrumen dilakukan agar kepekaan instrumen dipertahankan sehingga validitas hasil analisis dapat optimal.

2) Metode dan Teknis Analisis

a.  Kualitas Ambien

Dalam ADKL metode untuk kualitas ambien mencakup beberapa macam, yaitu :

1. Kulaitas air            Ketiganya dianalisis  parameter fisik kimia

2. Kulaitas udara          dengan metode analisis spesifik sesuai dengan

3. Kulaitas tanah          macam parameternya

4. Vektor dan Parasit.

Dianalisis sesuai dengan parameter vektor/parasit/mikroba/bakteri dengan metode analisis dan alat sesuai dengan macam parameter vektor/parasit/mikroba/bakteri.

5. Makanan dan Gizi.

Dianalisis sesuai dengan parameter makanan/gizi dengan metode pengamatan yang disesuaikan dengan parameternya.

b.  Kualitas Kesehatan Manusia

Untuk mendeteksi kualitas kesehatan manusia/masyarakat, dipakai metode yang tidak invasif (tidak menyakiti). Macam metode tersebut adalah :

1) Metode pemantauan perilaku paparan.

Sebagai contoh : pemasangan “film budge” dan “alpha cellulose pads”.

2) Metode pengukuran bio-indikator/petanda biologis.

Sebagai contoh : pengukuran kadar timbal dalam darah.

3) Metode pengukuran/identifikasi kasus.

Dengan cara penentuan dampak kesehatan yang berupa gejala penyakit dan hasil deteksi yang memakai alat teknik diagnostik.

c. Metode Analisis

Dilakukan untuk menganalisis data yang mengkaitkan hubungan variabel dengan menggunakan pendekatan epidemiologi. Beberapa metode analisis epidemiologi yang sering dipakai adalah :

1) Proporsi atau “Rate”

Ditunjukkan oleh perbandingan antara jumlah kasus dengan jumlah orang yang berisiko dalam populasi.

2) Angka Prevalensi

Perbandingan antara jumlah kasus penyakit dengan jumlah populasi pada waktu tertentu.

3) Angka Insidensi

Perbandingan antara jumlah kasus baru dari penyakit dengan jumlah manusia yang mempunyai risiko dalam populasi pada periode waktu.

6. INTERPRETASI HASIL ANALISIS

Untuk melakukan interpretasi suatu hasil analisis laboratorium, diperlukan syarat sebagai berikut :

a) Sistem pengambilan sampel yang benar

b) Cara pewadahan dan pengawetan yang memenuhi syarat

c) Waktu pengiriman sampel ke laboratorium yang optimal

d) Kaitan hasil analisis dan kondisi lingkungan tempat pengambilan sampel harus proporsional

e) Pengumpulan secara akurat informasi lingkungan yang berhubungan dengan geologi, vegetasi dan aktivitas manusia yang dapat mempengaruhi parameter kualitas kesehatan lingkungan.

 

 

7. PRAKIRAAN DAMPAK KESEHATAN LINGKUNGAN

Sistem yang dipakai untuk menentukan prakiraan dampak dari parameter lingkungan terhadap kesehatan masyarakat/ kesehatan lingkungan adalah pendekatan model dan menggunakan “profesional judgement”. Pada ADKL dikenal dua jenis prakiraan dampak, yaitu :

-   Prakiraan dampak pada parameter ambien.

-   Prakiraan dampak pada kesehatan manusia.

A. Prakiraan dampak pada parameter ambien

1. Kualitas Udara

a.  Sumber tidak bergerak

Untuk menentukan prakiraan besarnya risiko terhadap masyarakat “population at risk” dari sebaran emisi gas atau partikel yang keluar dari cerobong pabrik, dipakai model Gauss. Dengan model Gauss, dapat diketahui prakiraan kadar gas atau partikel di udara ambien dengan jarak tertentu dari cerobong pabrik.

b.  Sumber bergerak

Untuk menentukan prakiraan besarnya risiko terhadap masyarakat “population at risk” dari sebaran pencemaran emisi yang berasal dari kegiatan transportasi dipakai dengan model Sutton. Dengan model Sutton, dapat diketahui prakiraan kadar gas atau partikel di udara ambien dengan jarak tertentu dari knalpot atau pusat transportasi.

2.  Kebisingan

Prakiraan untuk kebisingan dapat diukur memakai model tertentu dengan menggunakan data yang  berasal dari sumber bergerak dan sumber tidak bergerak.

3.  Kualitas air

Pencemaran badan air dan prakiraan pengaruhnya bagi kesehatan manusia, dibedakan atas sumber pencemaran yang merusak (“degradable”) dan yang kurang merusak (“non degradable”).

a.  Sumber pencemar yang merusak (“degradable”)

Sifat racunnya mengganggu secara langsung.

Pendekatan untuk prakiraan luasnya persebaran dampak dipakai model Guler dan Dobbins, yaitu : “Biological oxigen Demand” (BOD) dan “Disolved Oxygen” (DO).

b. Sumber pencemar yang kurang merusak (“non degradable”)

Mempunyai sifat organik dan an-organik. Prakiraan persebaran dampak dalam badan air, ditentukan oleh faktor sifat dan lama waktu akumulatif, sifat non-degradatif serta hidrodinamika badan air.

4.  Perubahan habitat, vektor dan agen

Prakiraan dampak yang disebabkan oleh perubahan habitat, perkembangan vektor, dan macam parasit atau mikroba (sebagai agen penyakit) sulit ditunjukkan dengan model. Dengan demikian prakiraan dapat didasarkan pada fenomena perubahan sebagai berikut :

a. Terjadinya perubahan habitat

b. Memungkinkan timbulnya vektor

c. Memungkinkan interaksi agen penyakit

d. Adanya sumber penyakit menular.


B. Prakiraan Dampak pada Kesehatan Manusia

Prakiraan dampak zat toksis yang masuk kedalam tubuh manusia akan memberikan efek akut atau kronis dan dipengaruhi oleh :

1.Jenis zat kimia

2.Jalur pemasukan (“Route of exposure”)

3.Dosis

4.Rata-rata dosis yang masuk (“dose rate”)

5.Waktu pemaparan (“fraction of lifetime exposure”)

6.Jenis kelamin

7.Proses biokinetik di dalam tubuh, yang terdiri dari absorbsi, distribusi, penimbunan, biotransformasi dan waktu eliminasi dari organ

8.Mekanisme keracunan.

PENDAHULUAN
Analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) pertama kali dicetuskan berdasarkan atas ketentuan yang tercantum dalam pasal 16 Undang-undang No.4 tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. Berdasarkan amanat pasal 16 tersebut diundangkan pada tanggal 5 Juni 1986 suatu Peraturan Pemerintah No.29 tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).Peraturan pemerintah (PP) No.29/ 1986 tersebut berlaku pada tanggal 5 Juni 1987 yaitu selang satu tahun setelah di tetapkan. Hal tersbut diperlukan karena masih perlu waktu untuk menyusun kriteria dampak terhadap lingkungan sosial mengingat definisi lingkungan yang menganut paham holistik yaitu tidak saja mengenai lingkungan fissik/kimia saja namun meliputi pula lingkungan sosial.
Berdasarkan pengalaman penerapan PP No.29/1986 tersebut dalam deregulasi dan untuk mencapai efisiensi maka PP No.29/1986 diganti dengan PP No.51/1993 yang di undangkan pada tanggal 23 Oktober 1993. Perubahan tersebut mengandung suatu cara untuk mempersingkat lamanya penyusunan AMDAL dengan mengintrodusir penetapan usaha dan/ atau kegiatan yang wajib AMDAL dengan keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup dengan demikian tidak diperlukan lagi pembuatan Penyajian Informasi Lingkungan (PIL). Perubahan tersebut mengandung pula keharusan pembuatan ANDAL , RKL, dan RPL di buat sekaligus yang berarti waktu pembuatan dokumen dapat diperpendek. Dalam perubahan tersebut di introdusir pula pembuatan dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) bagi kegiatan yang tidak wajib AMDAL. Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL) ditetapkan oleh Menteri Sektoral yang berdasarkan format yang di tentukan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup. Demikian pula wewenang menyusun AMDAL disederhanakan dan dihapuskannya dewan kualifikasi dan ujian negara.
Dengan ditetapkannya Undang-undang No.23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPLH), maka PP No.51/1993 perlu diganti dengan PP No.27/1999 yang di undangkan pada tanggal 7 Mei 1999, yang efektif berlaku 18 bulan kemudian. Perubahan besar yang terdapat dalam PP No.27 / 19999 adalah di hapuskannya semua Komisi AMDAL Pusat  dan diganti dengan satu Komisi Penilai Pusat yang ada di Bapedal. Didaerah yaitu provinsi mempunyai Komisi Penilai Daerah. Apabila penilaian tersebut tidak layak lingkungan maka instansi yang berwenang boleh menolak permohohan  ijin yang di ajukan oleh pemrakarsa. Suatu hal yang lebih di tekankan dalam PP No.27/1999 adalah keterbukaan informasi dan peran masyarakat.
Implementasi AMDAL sangat perlu di sosialisasikan tidak hanya kepada masyarakat namu perlu juga pada para calon investor agar dapat mengetahui perihal AMDAL di Indonesia. Karena semua tahu bahwa proses pembangunan di gunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara ekonomi, sosial dan budaya. Dengan implementasi AMDAL yang sesuai dengan aturan yang ada maka di harapkan akan berdampak positip pada recovery ekonomi pada suatu daerah.

ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN (AMDAL)
Definisi AMDAL

AMDAL adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/ atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/ atau kegiatan.
Dasar hukum AMDAL
Sebagai dasar hukum AMDAL adalah PP No.27/ 1999 yang di dukung oleh paket keputusan menteri lingkungan hidup tentang jenis usaha dan/ atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan AMDAL dan keputusan kepala BAPEDAL tentang pedoman penentuan dampak besar dan penting.

Tujuan dan sasaran AMDAL   
Tujuan dan sasaran AMDAL adalah untuk menjamin suatu usaha atau kegiatan pembangunan dapat berjalan secara berkesinambungan tanpa merusak lingkungan hidup. Dengan melalui studi AMDAL diharapkan usah dan / atau kegiatan pembangunan dapat memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam secara efisien, meminimumkan dampak negatip dan memaksimalkan dampak positip terhadap lingkungan hidup.
Tanggung jawab pelaksanaan AMDAL
Secara umum yang bertanggung jawab terhadap koordinasi proses pelaksanaan AMDAL adalah BAPEDAL (Badan Pengendalian Dampak Lingkungan).

Mulainya studi AMDAL
AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. Sesuai dengan PP No./ 1999 maka AMDAL merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan ijin melakukan usaha dan / atau kegiatan . Oleh karenya AMDAL harus disusun segera setelah jelas alternatif lokasi usaha dan /atau kegiatan nya serta alternatif teknologi yang akan di gunakan.
AMDAL dan perijinan.
Agar supaya pelaksanaan AMDAL berjalan efektif dan dapat mencapai sasaran yang diharapkan , pengawasannya dikaitkan dengan mekanisme perijinan rencana usaha atau kegiatan. Berdasarkan PP no.27/ 1999 suatu ijin untuk melakukan usaha dan/ atau kegiatan baru akan diberikan bila hasil dari studi AMDAL menyatakan bahwa rencana usaha dan/ atau kegiatan tersebut layak lingkungan. Ketentuan dalam RKL/ RPL menjadi bagian dari ketentuan ijin.
Pasal 22 PP/ 1999 mengatur bahwa instansi yan bertanggung jawab (Bapedal atau Gubernur) memberikan keputusan tidak layak lingkungan apabila hasil penilaian Komisi menyimpulkan tidak layak lingkungan. Keputusan tidak layak lingkungan harus diikuti oleh instansi yang berwenang menerbitkan ijin usaha. Apabila pejabat yang berwenang menerbitkan ijin usaha tidak mengikuti keputusan layak lingkungan, maka pejabat yang berwenang tersebut dapat menjadi obyek gugatan tata usaha negara di PTUN. Sudah saatnya sistem hukum kita memberikan ancaman sanksi tidak hanya kepada masyarakat umum , tetapi harus berlaku pula bagi pejabat yang tidak melaksanakan perintah Undang-undang seperti sanksi disiplin ataupun sanksi pidana.
Prosedur penyusunan AMDAL
Secara garis besar proses AMDAL mencakup langkah-langkah sebagai berikut:
1.Mengidentifikasi dampak dari rencana usaha dan/atau kegiatan
2.Menguraikan rona lingkungan awal
3.Memprediksi dampak penting
4.Mengevaluasi dampak penting dan merumuskan arahan RKL/RPL.

Dokumen AMDAL terdiri dari 4 (empat) rangkaian dokumen yang dilaksanakan secara berurutan , yaitu:
1.Dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)
2.Dokumen Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL)
3.Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL)
4.Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL)

Pendekatan Studi AMDAL
Dalam rangka untuk mencapai efisiensi dan efektivitas pelaksanaan AMDAL, penyusunan AMDAL bagi rencana usaha dan/atau kegiatan dapat dilakukan melalui pendekatan studi AMDAL sebagai berikut:
1.Pendekatan studi AMDAL Kegiatan Tunggal
2.Pendekatan studi AMDAL Kegiatan Terpadu
3.Pendekatan studi AMDAL  Kegiatan Dalam Kawasan

Penyusunan AMDAL
Untuk menyusun studi AMDAL pemrakarsa dapat meminta jasa konsultan untuk menyusun AMDAL. Anggota penyusun ( minimal koordinator pelaksana) harus bersertifikat penyusun AMDAL (AMDAL B). Sedangkan anggota penyusun lainnya adalah para ahli di bidangnya yang sesuai dengan bidang kegiatan yang di studi.

Peran serta masyarakat
Semua kegiatan dan /atau usaha yang wajib AMDAL, maka pemrakarsa wajib mengumumkan terlebih dulu kepada masyarakat sebelum pemrakarsa menyusun AMDAL. Yaitu pelaksanaan Kep.Kepala BAPEDAL No.08 tahun 2000 tentang Keterlibatan masyarakat dan keterbukaan informasi dalam proses AMDAL. Dalam jangka waktu 30 hari sejak diumumkan , masyarakat berhak memberikan saran, pendapat dan tanggapan. Dalam proses pembuatan AMDAL peran masyarakat tetap diperlukan . Dengan dipertimbangkannya dan dikajinya saran, pendapat dan tanggapan masyarakat dalam studi AMDAL. Pada proses penilaian AMDAL dalam KOMISI PENILAI AMDAL  maka saran, pendapat dan tanggapan masyarakat akan menjadi dasar pertimbangan penetapan kelayakan lingkungan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.

PENILAIAN DOKUMEN AMDAL
Penilaian dokumen AMDAL dilakukan oleh Komisi Penilaian AMDAL Pusat yang berkedudukan di BAPEDAL untuk  menilai dokumen AMDAL dari usaha dan/atau kegiatan yang bersifat strategis, lokasinya melebihi satu propinsi, berada di wilayah sengketa, berada di ruang lautan, dan/ atau lokasinya dilintas batas negara RI dengan negara lain.

Penilaian dokumen AMDAL dilakukan untuk beberapa dokumen dan meliputi penilaian terhadap kelengkapan administrasi dan isi dokumen. Dokumen yang di nilai adalah meliputi:     1.Penilaian dokumen Kerangka Acuan (KA)
2.Penilaian dokumen Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL)
3.Penilaian Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL)
4.Penilaian Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL)

Penilaian Kerangka Acuan (KA), meliputi:
1.Kelengkapan administrasi
2.Isi dokumen, yang terdiri dari:
a.Pendahuluan
b.Ruang lingkup studi
c.Metode studi
d.Pelaksanaan studi
e.Daftar pustaka dan lampiran

Penilaian Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL), meliputi:
1.Kelengkapan administrasi
2.Isi dokumen, meliputi:
a.Pendahuluan
b.Ruang lingkup studi
c.Metode studi
d.Rencana usaha dan /atau kegiatan
e.Rona lingkungan awal
f.Prakiraan dampak penting
g.Evaluasi dampak penting
h.Daftar pustaka dan lampiran
Penilaian Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL), meliputi:
1.Lingkup RKL
2.Pendekatan RKL
3.Kedalaman RKL
4.Rencana pelaksanaan RKL
5.Daftar pustaka dan lampiran
Penilaian Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL), meliputi:
1.Lingkup RPL
2.Pendekatan RPL
3.Rencana pelaksanaan RPL
4.Daftar pustaka dan lampiran.

KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN
(AMDAL) KABUPATEN/ KOTA. 

Komisi tersebut di bentuk oleh Bupati/ Walikota. Tugas komisi penilai adalah menilai KA, ANDAL, RKL, dan RPL. Dalam melaksanakan tugasnya komisi penilai dibantu oleh tim teknis komisi penilai dan sekretaris komisi penilai.
Susunan keanggotaan komisi penilai terdiri dari ketua biasanya dijabat oleh Ketua Dapedalda Kabupaten/Kota, sekretaris yang dijabat oleh salah seorang pejabat yang menangani masalah AMDAL. Sedangkan anggotanya terdiri dari wakil Bapeda, instansi yang bertugas mengendalikan dampak lingkungan, instasi bidang penanaman modal, instansi bidang pertanahan, instansi bidang pertahanan, instansi bidang kesehatan, instansi yang terkait dengan lingkungan kegiatan, dan anggota lain yang di anggap perlu.
Secara garis besar komisi penilai AMDAL dapat terdiri dari unsur-unsur (1) unsur pemerintah;(2) wakil masyarakat terkena dampak; (3) perguruan tinggi; (4) Pakar dan (5) organisasi lingkungan.
Ada semacam kerancuan dalam kebijakan AMDAL dimana dokumen tersebut ditempatkan sebagai sebuah studi kelayakan ilmiah di bidang lingkungan hidup yang menjadi alat bantu bagi pengambilan keputusan dalam pembangunan. Namun demikian komisi penilai yang bertugas menilai AMDAL beranggotakan mayoritas wakil dari instansi pemerintah yang mencermikan heavy bureaucracy , dan wakil-wakil yang melakukan advokasi . Dari komposisi yang ada dapat mengakibatkan hal-hal sebagai berikut (1) keputusan kelayakan lingkungan di dominasi oleh suara suara yang didasarkan pada kepentingan birokrasi; (2).wakil masyarakat maupun LSM sebagai kekuatan counter balance dapat dengan mudah terkooptasi (captured or coopted)  karena berbagai faktor;
(3) keputusan cukup sulit untuk dicapai karena yang mendominasi adalah bukan pertimbangan ilmiah obyektif akan tetapi kepentingan pemerintah atau kepentingan masyarakat/ LSM secara sepihak .
Sebagai seorang pengusaha atau investor , kemana dia harus berkonsultasi jika mereka akan melaksanakan studi AMDAL ?. Sebaiknya konsultasi dapat dilakukan di 3 (tiga) komisi penilai AMDAL, yaitu:
1.    Komisi Penilai AMDAL Pusat
2.    Komisi Penilai AMDAL Propinsi
3.    Komisi AMDAL Kabupaten/ Kota. Tergantung dari jenis rencana kegiatan yang akan di studi AMDAL nya.

EVALUASI PROSES PENILAIAN DOKUMEN AMDAL
Proses dan prosedur penilaian AMDAL secara umum cukup baik yang ditandai dengan singkatnya waktu penilaian , memang waktu penilaian sangat tergantung dari kualitas KA dan dokumen AMDAL nya sendiri.

Kemampuan teknis dan obyektifitas dari penilaian
Anggota komisi penilai yang telah memiliki sertifikat kursus AMDAL A, B, dan C cukup baik secara teknis dan obyektif, lebih profesional serta anggota penilai yang pernah melakukan penyusunan AMDAL walaupun jumlahnya relatif tidak banyak. Anggota komisi penilai yang berasal dari institusi sektoral atau dari pemerintah daerah (bukan dari tim penilai tetap) sering belum banyak menguasai mengenai AMDAL. Penilaian oleh LSM dan wakil dari masyarakat kadang-kadang kurang obyektif. Tim teknis yang ikut duduk di dalam komisi penilai perlu lebih memahami peran bidangnya dalam AMDAL.

Evaluasi keterlibatan masyarakat.
Usaha melibatkan masyarakat dalam penilaian AMDAL cukup memadai dengan dilibatkannya LSM lokal dan Pemerintah daerah (Bappeda), dan tokoh masyarakat.

AMDAL DAN EKONOMI KERAKYATAN
Dengan dilaksanakannya AMDAL yang sesuai dengan aturan, maka akan didapatkan hasil yang optimal dan akan berpengaruh terhadap kebangkitan ekonomi. Kenapa demikian? Dalam masa otonomi daerah diharapkan pemerintah daerah menganut paradigma baru , antara lain:
1.    Sumber daya yang ada di daerah merupakan bagian dari sistem penyangga kehidupan masyarakat, seterusnya masyarakat merupakan sumber daya pembangunan  bagi daerah.
2.    Kesejahteraan masyarakat merupakan satu kesatuan dan bagian yang tidak terpisahkan dari kelestarian sumber daya yang ada di daerah.
Dengan demikian maka dalam rangka otonomi daerah, fungsi dan tugas pemerintah daerah seyogyanya berpegang pada hal-hal tersebut dibawah ini:
1.    Pemda menerima de-sentralisasi kewenangan dan kewajiban
2.    Pemda meningkatkan pelayanan kepada masyarakat
3.    Pemda melaksanakan program ekonomi kerakyatan
4.    Pemda menetapkan kebijakan pengelolaan sumber daya di daerah secara konsisten.
5.    Pemda memberikan jaminan kepastian usaha
6.    Pemda menetapkan sumberdaya di daerah sebagai sumberdaya kehidupan dan bukan sumberdaya pendapatan

KEBERHASILAN IMPLEMENTASI AMDAL DI DAERAH.

Sebagai syarat keberhasilan implementasi AMDAL di daerah adalah:
1.Melaksanakan peraturan/ perundang-undangan yang ada
Contoh:
Sebelum pembuatan dokumen AMDAL pemrakarsa harus melaksanakan Keputusan Kepala Bapedal 8 tahun/ 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL yaitu harus melaksanakan konsultasi masyarakat sebelum pembuatan KA. Apabila konsultasi masyarakat berjalan dengan baik dan lancar, maka pelaksanaan AMDAL serta implementasi RKL dan RPL akan berjalan dengan baik dan lancar pula. Hal tersebut akan berimbas pada kondisi lingkungan baik lingkungan fisik/ kimia, sosial-ekonomi-budaya yang kondusif sehingga masyarakat terbebas dari dampak negatip dari kegiatan dan masyarakat akan sehat serta perekonomian akan bangkit.
2.Implementasi AMDAL secara profesional, transparan dan terpadu.
Apabila implementasi memang demikian maka implementasi RKL dan RKL akan baik pula. Implementai AMDAL, RKL dan RPL yang optimal akan meminimalkan dampak negatip dari kegiatan yang ada. Dengan demikian akan meningkatkan status kesehatan, penghasilan masyarakat meningkat dan masyarakat akan sejahtera. Selain itu pihak industri dan/atau kegiatan dan pihak pemrakarsa akan mendapatkan keuntungan yaitu terbebas dari tuntutan hukum     ( karena tidak mencemari lingkungan ) dan terbebas pula dari tuntutan masyarakat  ( karena masyarakat merasa tidak dirugikan ). Hal tersebut akan lebih mudah untuk melakukan pendekatan sosial-ekonomi-budaya dengan masyarakat di sekitar pabrik/ industri/ kegiatan berlangsung.

GAS CARBON MONOKSIDA (CO)
Efek terhadap Kesehatan dan Lingkungan
Terhadap kesehatan, gas CO merupakan gas yang berbahaya untuk tubuh karena daya ikat gas CO terhadap Hb adalah 240 kali dari daya ikat CO terhadap O2. Apabila gas CO darah (HbCO) cukup tinggi, maka akan mulai terjadi gejala antara lain pusing kepala (HbCO 10%), mual dan sesak nafas (HbCO 20%), gangguan penglihatan dan konsentrasi menurun (HbCO 30%) tidak sadar, koma (HbCO 40-50%) dan apabila berlanjut akan dapat menyebabkan kematian. Pada paparan menahun akan menunjukkan gejala gangguan syaraf, infark otak, infark jantung dan kematian bayi dalam kandungan. Gas CO yang tinggi di dalam darah dapat berasal dari rokok dan asap dari kendaraan bermotor.Terhadap lingkungan udara dalam ruangan, gas CO dapat pula merupakan gas yang menyebabkan building associated illnesses, dengan keluhan berupa nyeri kepala, mual, dan muntah.

GAS SULFUR DIOKSIDA (SO2)

Secara garis besar efek terhadap kesehatan , akan mengganggu alat pernafasan dan mata.Terhadap alat pernafasan, terjadi iritasi selaput lendir saluran pernafasan  dan pada kadar 8-12 ppm  dapat menyebabkan batuk dan kesukaran bernafas. Pada paparan kronis terhadap saluran pernafasan dapat menyebabkan terjadinya bronchitis, chronic obstructive pulmonary disease (COPD) dan edema paru. Sedangkan efek terhadap mata adalah iritasi mata yang bisa menyebabkan keluarnya air mata dan mata menjadi memerah dan terasa pedas.
Efek terhadap lingkungan dapat dilihat pada atmosfer. Apabila kadar di atmosfer cukup tinggi dan ada hujan maka kemungkinan akan terjadi hujan asam yang bersifat lokal. Pada kondisi kelembaban udara tinggi maka gas SO2 akan bersifat korosive terhadap cat gedung.

GAS NITROGEN DIOKSIDA (NO2) DAN OZONE (O3)
Kedua gas tersebut bersifat iritan dan efek negatipnya mirip dengan gas SO2, yaitu iritasi terhadap selaput lendir alat pernafasan, mata dan dapat iritasi kulit. Gas NO2 merupakan suatu gas oksidan eksogen yang apabila masuk kedalam tubuh manusia akan dapat menimbulkan oksidan indogen.

GAS HIDROCARBON (HC).
Gas tersebut mempunyai sifat garcinogenic yaitu dapat memicu terjadinya kanker terutama kanker darah.

BAHAN PENCEMAR PARTIKEL LAINNYA ADALAH:
Merupakan hasil atrisi (gesekan) dari bahan karet dan asbes, dengan demikian akan menghasilkan: Partikel karet dan Partikel asbes dan keduanya mempunyai sifat carcinogenic.


DAMPAK PENCEMAR LOGAM BERAT Pb, Hg dan Cd TERHADAP KESEHATAN.

1.Dampak Terhadap Manusia Akibat Tercemar oleh Logam Berat
Timbal (Pb).
Menurut ketentuan WHO, kadar Pb dalam darah manusia yang tidak terpapar oleh Pb adalah sekitar 10-25 ug/100 ml. Pada penelitian yang dilakukan di industri proses daur ulang aki bekas, Suwandi (1995) menemukan bahwa kadar Pb udara di daerah terpapar pada malam hari besarnya sepuluh kali lipat kadar Pb di daerah tidak terpapar  pada malan hari (0,0299 mg/m3 vs 0,0028 mg/m3), sedangkan rerata kadar Pb Blood ( Pb-B ) di daerah terpapar 170,44 ug/100 ml dan di daerah tidak terpapar  sebesar 45,43 ug/100 ml. Juga ditemukan bahwa semakin tinggi kadar Pb-B, semakin rendah kadar Hb nya.
Pada penelitian mengenai kadar Pb di udara ambien dan hubungan antara kadar Pb-B dengan IQ anak sekolah, Susanto (1997) menemukan bahwa kadar Pb udara ambien di daerah penelitian sebesar 0,00103 mg/m3, masih dibawah nilai baku mutu yang besarnya 0,060 mg/m3. Didapatkan pula bahwa kadar Pb-B anak SD di kawasan tertib lalu-lintas (sekitar 39,73 ug/100 ml) lebih tinggi dari kadar Pb-B di luar kawasan tertib lalu lintas (16,30 ug/100 ml). Tidak di temukan pula perbedaan yang bermakna antara IQ anak sekolah SD di kawasan tertib lalu lintas  dan di luar kawasan tertib lalu lintas.    Mukono dkk. yang pada tahun 1991 meneliti status kesehatan dan kadar Pb-B karyawan SPBU (Setasiun Pompa Bensin Umum) di Jawa Timur, menemukan bahwa pemeriksaan darah lengkap pada karyawan SPBU dengan penjualan bensin kurang dari 8 ribu liter lebih baik dari karyawan SPBU yang menjual bensin lebih dari 10 ribu liter per hari. Didapatkan pula bahwa rerata kadar Pb-B karyawan SPBU sebesar 77,59 ug/100 ml.
Paparan bahan tercemar Pb dapat menyebabkan gangguan pada organ sebagai berikut :

Gangguan pada sistem syaraf.

Susunan syaraf merupakan jaringan yang sangat peka terhadap bahan pencemar Pb. Gangguan neurologi (susunan syaraf) akibat tercemar oleh Pb dapat berupa  encephalopathy, ataxia, stupor dan coma. Pada anak-anak dapat menimbulkan kejang tubuh dan neuropathy perifer.

Gangguan pada sistem urogenetal .

Bahan pencemar Pb dapat menyebabkan tidak berfungsinya tubulus renal, nephropati irreversible, sclerosis vaskuler, sel tubulus atropi, fibrosis dan sclerosis glumerolus. Akibatnya dapat menimbulkan aminoaciduria dan glukosuria, dan jika paparannya terus berlanjut dapat terjadi nefritis kronis.
.
Gangguan pada sistem reproduksi

Sistem reproduksi dapat pula terganggu fungsinya akibat terpapar oleh logam berat Pb. Gangguan terhadap sistem reproduksi dapat berupa keguguran, kesakitan dan kematian janin. Logam berat Pb mempunyai efek racun terhadap gamet dan dapat menyebabkan cacat kromosom. Anak-anak sangat peka terhadap paparan Pb di udara. Paparan Pb dengan kadar yang rendah yang  berlangsung cukup lama dapat menurunkan IQ .

Gangguan pada sistem hemopoitik.
Unsur hemopoitik yang peka terhadap paparan Pb adalah hemoglobin yang menyebabkan terjadinya anemia.  Efek paparan Pb tersebut menyebabkan terjadinya terjadinya penurunan sintesis globin walaupun tak tampak adanya penurunan kadar zat besi dalam serum. Anemia ringan yang terjadi disertai dengan sedikit peningkatan kadar ALA (Amino Levulinic Acid) urine. Pada anak – anak juga terjadi peningkatan ALA dalam darah. Efek dominan dari keracunan Pb pada sistem hemopoitik adalah peningkatan ekskresi ALA dan CP (Coproporphyrine). Dapat dikatakan bahwa gejala anemia merupakan gejala dini dari keracunan Pb pada manusia. Anemia tidak terjadi pada karyawan industri dengan kadar Pb-B (kadar Pb dalam darah) dibawah 110 ug/100 ml.

Gangguan pada sistem syaraf.
Anak –anak lebih peka terhadap paparan Pb, utamanya organ  otak lebih sensitif pada anak-anak dibandingkan pada orang dewasa. Paparan menahun dengan Pb dapat menyebabkan lead encephalopathy. Gambaran klinis yang timbul  adalah rasa malas, gampang tersinggung, sakit kepala, tremor, halusinasi, gampang lupa, sukar konsentrasi dan menurunnya kecerdasan.
Pada anak dengan kadar Pb darah (Pb-B) sebesar 40-80 ug/100 ml dapat timbul gejala gangguan hematologis, namun belum tampak adanya gejala lead encephalopathy. Gejala yang timbul pada lead encephalopathy antara lain adalah rasa cangung, mudah tersinggung, dan penurunan pembentukan konsep. Apabila pada masa bayi sudah mulai terpapar oleh Pb, maka pengaruhnya pada profil psikologis dan penampilan pendidikannya akan tampak pada umur sekitar 5-15 tahun. Akan timbul gejala tidak spesifik berupa hiperaktifitas atau gangguan psikologis jika terpapar Pb pada anak berusi 21 bulan sampai 18 tahun.
Untuk melihat hubungan antara kadar Pb-B dengan IQ (Intelegance Quation) telah dilakukan penelitian pada anak berusia 3 sampai 15 tahun dengan kondisi sosial ekonomi dan etnis yang sama. Pada sampel dengan kadar Pb-B sebesar 40-60 ug/ml ternyata mempunyai IQ lebih rendah apabila dibandingkan dengan sampel yang kadar Pb-B kurang dari 40 ug/ml. Pada dewasa muda yang berumur sekitar 17 tahun tidak tampak adanya  hubungan antara Pb-B dan IQ.
Gambaran klinis akibat keracunan Pb terhadap gangguan syaraf perifer dapat berupa semutan dan kulit terasa tebal. Keracunan kronis Pb akan meningkatkan kematian yang disebabkan oleh kelainan cerebro vasculer. Efek keracunan timbal (Pb) terhadap saluran pencernaan berupa abdominal colic. Efek negatif terhadap liver adalah meningkatnya enzym SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase).
Masyarakat dapat terpapar oleh Pb  melalui pencemaran udara, air dan tanah serta dapat pula masuk kedalam tubuh melalui makanan/minuman, obat-obatan, rokok dan terpapar oleh cat. Paparan kronis oleh Pb dapat menyebabkan tertimbunnya Pb dalam organ atau jaringan dan cairan tubuh. Dalam keadaan ini dapat terdeteksi adanya  Pb dalam urine, feces, keringat ,rambut dan kuku.
Logam berat Pb yang terdeteksi dalam darah merupakan indikator penting akibat paparan dan seberapa jauh akibat/efek yang ditimbulkan. Paparan oleh Pb yang cukup tinggi di industri dapat memberikan gangguan cerebrovaskular seperti perdarahan otak, trombosis, dan arterio sclerosis.. Karyawan industri dengan masa kerja 20 tahun dan terpapar timbal dengan kadar yang cukup tinggi menunjukkan kadar timbal dalam urine sebanyak 100 - 250 ug/liter. Pada pria yang bekerja selama 15 tahun pada pabrik aki dan pengecoran Pb yang kadar Pb udaranya melebihi 0,15 ug/m3 dapat timbul hipertensi.
Implikasi klinik akibat tercemar oleh Pb dapat ditunjukan oleh hubungan antara dosis-efek dan dosis-respon. Hubungan antara dosis-efek ditunjukkan oleh besarnya dosis dengan intensitas yang spesifik pada seseorang. Sebagai contoh adalah bagaimana hubungan antara Pb-B (kadar Pb di dalam darah) dengan persentasi inhibisi dari ALAD (Amino Levulinic Acid Dehydratase) dalam darah. Sedangkan hubungan dosis-respon ditunjukkan oleh hubungan antara dosis paparan dengan proporsi populasi penduduk yang terkena efek paparan.

2. Dampak Terhadap Manusia Akibat Tercemar oleh Logam Berat
Merkuri (Hg).
Studi epidemiologi menunjukkan  bahwa keracunan metil dan etil merkuri sebagian besar di sebabkan oleh konsumsi ikan yang di peroleh dari daerah tercemar atau makanan yang berbahan baku tumbuhan yang disemprot dengan pestisida jenis fungisida alkil merkuri. Pada tahun 1968 Katsuna melaporkan adanya epidemi keracunan Hg di Teluk Minamata, dan pada tahun 1967 terjadi pencemaran Hg di sungai Agano di Nigata. Pada saat terjadi epidemi, kadar Hg pada ikan di Teluk Minamata sebesar 11 ug/kg berat basah dan di sungai Agano sebesar 10 ug/kg berat basah.
Kejadian di Irak pada tahun 1971-1972 terjadi keracunan alkil merkuri akibat mengkonsumsi gandum yang disemprot dengan alkil merkuri yang menyebabkan 500 orang meninggal dunia dan 6000 orang masuk rumah sakit.
Penelitian Eto (1999), menyimpulkan bahwa efek keracunan Hg tergantung dari kepekaan individu dan faktor genetik. Individu yang peka terhadap keracunan Hg adalah anak dalam kandungan (prenatal), bayi, anak-anak, dan orang tua.
Gejala yang timbul akibat keracunan Hg dapat merupakan gangguan psikologik berupa rasa cemas dan kadang timbul sifat agresi.
Berdasarkan temuan Diner dan Brenner (1998) serta Frackelton dan Christensen (1998) dikatakan bahwa diagnose klinis keracunan Hg tidaklah mudah dan sering dikaburkan dengan diagnose kelainan psikiatrik dan autisme. Kesukaran diagnose tersebut disebabkan oleh karena panjangnya periode laten dari mulai terpapar sampai timbulnya gejala dan tidak jelasnya bentuk gejala yang timbul, yang mirip dengan kelainan psikiatrik.

Diagnose keracunan Hg dengan pemeriksaan urine, darah, kuku dan rambut
Keracunan Hg yang sering disebut sebagai mercurialism banyak ditemukan di negara maju, misalnya Mad Hatter’s Disease yang merupakan suatu outbreak keracunan Hg yang diderita oleh karyawan di Alice Wonderland, Minamata Disease yang merupakan suatu outbreak keracunan Hg pada penduduk makan ikan yang terkontaminasi oleh Hg
di Minamata Jepang, dan kejadian ini dikenal sebagai Minamata Disease. Penyakit lain yang disebabkan oleh keracunan Hg adalah Pink Disease yang terjadi di Guatemala dan Rusia yang merupakan outbreak keracunan Hg akibat mengkonsumsi  padi-padian yang terkontaminasi oleh Hg.
Kadar Hg di udara ambien daerah yang tidak tercemar oleh Hg berkisar antara 20-50 ng/m3. Dengan kadar Hg udara ambien sebesar 50 ng/m3, dalam waktu tiga hari banyaknya Hg yang terhisap oleh paru sebesar 1 µg/hari. Gejala klinis yang timbul, tergantung pada banyaknya Hg yang masuk ke dalam tubuh, mulai dari gejala yang paling ringan yaitu parestesia sampai gejala yang lebih berat yaitu ataxia, dysarthria bahkan dapat menyebabkan kematian. Paparan oleh Hg (biasanya berupa metil merkuri) pada saat prenatal akan nampak setelah bayi lahir yang dapat berupa cerebral palsy maupun retardasi mental. Keracunan ini dapat terjadi jika pada ibu hamil yang mengkonsumsi daging binatang yang diberi pakan padi-padian yang disemprot fungisida yang mengandung metil merkuri.
Keracunan Hg yang akut dapat menyebabkan terjadinya kerusakan saluran pencernaan, gangguan kardiovasculer, kegagalan ginjal akut maupun shock. Pada pemeriksaan laboratorium tampak terjadinya denaturasi protein enzim yang tidak aktif dan kerusakan membran sel.
Metil maupun etil merkuri merupakan racun yang dapat mengganggu susunan syaraf pusat (serebrum dan serebellum) maupun syaraf perifer. Kelainan syaraf perifer dapat berupa parastesia, hilangnya  rasa pada anggota gerak dan sekitar mulut serta dapat pula terjadi menyempitnya lapangan pandang dan berkurangnya pendengaran. Keracunan merkuri dapat pula berpengaruh terhadap fungsi ginjal yaitu terjadinya proteinuria. Pada karyawan yang terpapar kronis oleh fenil dan alkil merkuri dapat timbul dermatitis. Selain mempunyai efek pada susunan syaraf, Hg juga dapat menyebabkan kelainan psikiatri berupa insomnia, nervus, kepala pusing, gampang lupa, tremor dan depresi.
Pada dasarnya besarnya risiko akibat terpapar oleh Hg, tergantung dari sumber Hg di lingkungan, tingkat paparan, teknik pengambilan sampel, analisis sampel dan hubungan dosis-respon.

3. Dampak Terhadap Manusia Akibat Tercemar oleh Logam Berat
Cadmium (Cd).
Oksida dari kadmium  adalah logam yang toksisitasnya tinggi. Sebagian besar kontaminasi oleh kadmium pada manusia melalui makanan dan rokok. Waktu paruh kadmium kira-kira 10-30 tahun. Akumulasi pada ginjal dan hati 10-100 kali konsentrasi pada jaringan yang lain.
Logam cadmium dalam tubuh manusia terutama akan  dieleminasi melalui urine. Hanya sedikit kadmium yang diabsorbsi yaitu sekitar 5-10%. Absorbsi dipengaruhi factor diet sep erti intake protein, calcium, vitamin D dan trace logam seperti seng (Zn). Proporsi yang besar adalah absorbsi malalui pernafasan yaitu antara 10-40% tergantung keadaan fisik wilayah Uap kadmium sangat toksis dengan lethal dose melalui pernafasan diperkirakan 10 menit terpapar sampai dengan 190 mg/m3 atau sekitar 8 mg/m3 selama 240 menit akan dapat menimbulkan kematian. Gejala umum keracunan Cd adalah  sakit di dada, nafas sesak (pendek), batuk-batuk dan lemah.
Paparan akut oleh kadmium (Cd) akan menyebabkan gejala nausea (mual), muntah, diare, kram, otot, anemia, dermatitis, pertumbuhan lambat, kerusakan ginjal dan hati, gangguan kardiovaskuler, empisema dan degenerasi testicular (Ragan & Mast 1990).
Dosis mematikan (lethal dose) secara akut diperkirakan sekitar 500 mg/kg untuk dewasa dan efek dosis akan nampak jika terabsorbsi 0,043 mg/kg per hari (Ware, 1989)

Gejala akut akibat keracunan  Cd (cadmium).
Gejala akut :
o    Sesak dada, kerongkongan kering dan dada terasa sesak (constriction of chest ), nafas pendek, nafas terengah-engah , distress dan bisa berkembang ke arah penyakit radang paru-paru. diserta sakit kepala dan menggigil kemungkinan .dapat diikuti kematian.
Gejala kronis:
o    Nafas pendek, kemampuan mencium bau menurun., berat badan menurun dan gigi terasa ngilu serta berwarna kuning keemasan.
Selain menyerang pernafasan dan gigi, keracunan yang bersifat kronis menyerang juga saluran pencernaan, ginjal, hati dan tulang.

Penataan industri nasional yang didukung oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan prasyarat terbentuknya masyarakat adil makmur sejahtera sesuai dengan nilai luhur Pancasila. Pembangunan industri diarahkan pada penguatan dan pendalaman struktur industri untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing industri serta untuk mendorong ekspor non migas. Akibat dari proses pembangunan industri ini adalah meningkatnya kuantitas dan kualitas dari berbagai jenis pencemaran.
Pencemaran udara merupakan konsekwensi dari meningkatnya berbagai macam industri dan jenis alat transportasi yang berpengaruh terhadap kualitas udara ambien . Penurunan kualitas udara ambien ditandai dengan meningkatnya parameter udara yang di keluarkan oleh industri dan kendaraan bermotor. Parameter tersebut antara lain adalah partikel debu, partikel Pb dan lainnya, gas SO2 (sulfur dioksida), gas NO2 (nitrogen dioksida), gas CO (karbon monoksida),  bahan oksidan dan gas HC (hidrokarbon).
Konsekuensi dari meningkatnya jumlah industri, akan meningkat pula buangan industri yang berupa bahan berbahaya dan beracun (B3) seperti merkuri (Hg) dan cadmium (Cd). Keberadaan B3 akan menyebabkan gangguan terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.  Dengan adanya parameter pencemar udara dan pencemar air tersebut perlu di antisipasi segala risiko terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan, serta diperlukan usaha mengatasinya untuk masa sekarang dan yang akan datang.

Abstract

 

Industrial development will be increasing the quantity and quality of air pollution. Air pollution especially gas air pollution is big  potential to be come green house gas. The member of green house gas are carbon dioxide (CO2), methane (CH4), nitrogen dioxide (NO2), ozone (O3), and chlorofluorocarbon (CFC). Accumulation of the green house gas can caused  green house effect. The most green house gas the given contribution to make green house effect is carbon dioxide gas while the most implication is given by chlorofluorocarbon. Chlorofluorocarbon as a stable at atmosphere and can influence ozone layer, because chlorofluorocarbon absorbs ultra violet radiation and form chlor radicals. On the next 40 year global temperature will increase average 1o C. If global temperature increasing will give bad implication for environment and human life. Other global and regional effect of air pollution that is acid rain and climate change. The main problem as the result of climate change is raining pattern that cause flood, dryness, and increasing sea water level. All of that factors give effects on social, economy, culture, health and politic matter.

 

Key word : air pollution, green house gas, green house effect, global warming. Read the rest of this entry »

Abstract

East Java province as one of densely populated in Indonesia. The number of population is approximately 34.766.000 (census of the year 2000) and the regional area is approximately 47.042.17 kmalso the density is approximately 725.5 / km2 . East Java, in December 2007 the total number of car and motor  bike is approximately 7.413.668 units, consists of car is 1.195.654 units and motor bike is 6.218.014 units. Especially, Surabaya is Indonesia second –largest city and the capitol of the province of East Java, in 2007 the population of the city is approximately 3 million and the number of car is approximately 2.500.000 units and motor bike is approximately 2.113.339 units. Caused of traffic accident consist of the environment, driver and vehicle factors. Consequently, the big of population and motor transportation ,East Java province had high traffic accident. Read the rest of this entry »